Kualitas Pendidikan Antara Cita dan Kesiapan


KUALITAS PENDIDIKAN ANTARA CITA DAN KESIAPAN

Zaenuddin Kabai

      Perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi . Semakin menuntut kesiapan, dan kecepatan ,serta kecakapan dalam mengarungi perjalanan hidup ummat manusia . Kapan tidak maka secara pasti akan tertinggal oleh zaman produc manusia itu sendiri . Barangkali tidaklah berlebihan jika penulis mengatakan bahwa saatnya tuntutan kehidupan menuju pada percepatan segala proses untuk menuai prestasi .
    Selain itu pola pikir dan pola laku secara terpaksa harus mengikuti arus perubahan yang serba cepat.Sekalipun tempat tinggal berada didaerah terpencil ,tapi pemikiran jangan dikecilkan . Dengan perinsif hidup local berpikir global dalam mengarungi perjalanan hidup baik hari ini maupun hari esok. Maka dari itu maksimalisasi peroses pembelajaran disetiap jenjang pendidikan adalah merupakan suatu kemutlakan . Jika tidak maka pasti tergilas oleh percepatan ilmu pengetahuan dan tekhnologi.
       Seiring dengan perkembngan tersebut . maka setiap sekolah minimal harus berorientasi kepada kualitas sekolah standar nasional (SSN) . Agar senantiasa berusaha untuk menumbuh kembangkan potensi kreatif dari segenap siswa yang menjadi tanggung jawabnya melalui berbagai cara demi penigkatan kualitas pendidikan .Sebab disadari atau tidak ; imput ,proses ,dan output adalah tiga kata tak terpisahkan untuk memenuhi tuntutan kualitas pendidikan.Terutama output sangat ditentukan oleh proses . Sementara proses akan berjalan sesuai dengan tuntutan kualitas kompetitif manakala ditunjang oleh ; disatu sisi imput(siswa) yang layak untuk ditumbuh kembangkan. Sisi lainnya sarana dan prasarana belajar memadai . Termasuk didalamnya buku pegangan siswa sebagai alat bantu baik dalam proses maupun diluar proses . Persoalannya sekarang bagaimana kesiapan kita dalam menghadapi kesemuanya itu.Terutama mengenai kesiapan buku referensi siswa .Selain itu sejauh manakah kesiapan sekolah gratis disemua jenjang pendidikan dalam memenuhi tuntutan tersebut.
    Tidak ada satupun menyangkal jika dikatakan bahwa guru adalah petugas terdepan untuk mencapai kualitas pendidikan .Tapi harus pula disadari bahwa keterlibatan guru hanya sampai pada proses belajar mengajar . Itupun kedudukannya sebagai pasilitator , pembimbing , pemandu , pengarah selama pebelajar ada disekolah.Akan tetapi diluar sekolah tidak mungkin guru untuk mengikuti satu persatu dari sekian banyak siswa . Oleh karena itu kepemilikan buku referenci bagi setiap siswa adalah merupakan suatu kemutlakan.Jika mengharapkan kualitas output yang dapat berkompetisi ditingkat nasional apatahlagi dimanca negara .Akan tetapi manakala sebaliknya maka harapan untuk meningkatkan kualitas hanya mrrupakan slogan belaka .
     Sebelum abad ke-20 sekolah masih sebagian besar siswa memnggunakan papan batu masih juga melahirkan output yang nota bene berkualitas ,akan tetapi ruang lingkup kompetisinya berbeda dengan sekarang selain itu jumlah mata pelajaran belum begitu padat tuntutannya sehingga siswa tanpa reference masih saja manpu menyelesaikan studi dengan baik sesuai dengan kondisi saat itu.Kondisi sekarang tidak lagi seperti abad awal keduapuluhan ,percepatan proses menuju peningkatan kualitas kompetitif tidak mungkin tanpa ditunjang oleh buku referensi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum.Hanya saja persoalannya harga buku – buku referensi dengan kualitas memadai masih dirasa mahal oleh kalangan orang tua .Sehingga hampir semua sekolah dianggap bermasalah kalau ada penerbit berjualan buku disekolah .
     Harga buku lebih mahal dari handphon (telephon genggam) bersama pulsanya setiap saat .Belum lagi kendaraan bermesin roda dua sehingga sepertinya sebagian besar orang tua siswa lebih cenderung mengutamakan kepentingan serimonial anaknya ketimbang dengan peningkatan kualitas pendidikan . Hal ini tergambar pada setiap sekolah yang dimasuki oleh penerbit senantiasa mendapat keritikan tajam .Bahkan sempat berpengaruh pada psikologi setiap pengelola sekolah bersama guru bantunya.Sungguh banyak julukan membanjiri sekolah ; ada sekolah dijuluki bisnis,memeras siswa, guru tidak manpu mengajar lagi,dan bahkan sebagian penanggung jawab sekolah diancam , diintimidasi oleh aparat tertentu.Aneh bin ajaib karena yang memanggil itu adalah produc pendidikan itu sendiri .Karena tidak mungkin pegang jabatan andaikata tidak pernah sekolah . Ataukah pada waktu sekolah memang tidak pernah membeli buku referensi sehingga pada saat mendengar siswa membeli buku mereka terkejut.
    Asumsi sekolah gratis buku gratis sehingga berimbas pada motivasi kepemilikan buku reperensi siswa hampir tereleminasi . Himbauan sekolah untuk belajar melalui berbagai macam buku reperensi dianggapnya suatu pemaksaan untuk membeli buku . Padahal sekolah gratis belumlah buku gratis ,dan bahkan segalanya harus gratis . Kondisi demikian bukanlah suatu hal yang tidak mungkin jika pemerintah memang benar-benar konsisten untuk meningkatkan kualitas pendidikan sesuai dengan tuntutan globalisasi dunia dewasa ini . Kapan tidak maka kualitas pendidikan yang termuat dalam UU.No.20 .TH.2003.hanya sebuah retorika belaka.
    Hanya saja perlu dijaga kualitas buku yang disiapkan oleh sekolah gratis , jangan sampai buku – buku yang tidak sesuai lagi dengan kurikulum yang sedang berlaku . Kalau ini terjadi maka bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah . Apa artinya buku disiapkan kalau penggunaannya membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan kurikulum lagi sementara proses belajar mengajar dibatasi oleh waktu.Sehingga efisiensi waktu dan efektifitas pembelajaran tidak terwujud. Akibatnya kualitas pembelajaran tidak mungkin dicapai.
     Berdasar dari uraian tersebut penulis berkesimpulan bahwa untuk meningkaktkan kualitas pendidikan semua jenjang tidaklah cukup untuk sekolah gratis. Akan tetapi harus ditunjang buku referensi yang sesuai dengan tuntutan kurikulum yang berlaku.Sebab kurikulum diproduksi sesuai dengan tuntutan kualitas kopetitif dewasa ini.Selain itu kualitas kecerdasan,dan kualitas kesejateraan guru ,serta kualitas sarana dan prasarana harus maksimal.
-------------------------------------------------------------------------------------------------
Penulis; Zaenuddin Kabai .Guru SMA Neg.2 Bantaeng.HP. 081342537529.

0 Response to "Kualitas Pendidikan Antara Cita dan Kesiapan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel