TAORI PRODUKSI



Teori produksi
    TEORI PRODUKSI | Menggambarkan perilaku konsumen dalam memproduksi barang atau jasa. Dalam penerapannya, teori ini tidak apat dipisahkan dari hukum produksi marjinal yang semakin menurun, sehingga kadang kala disebut teori keterbatasan produksi. Sedangkan Produksi |; Suatu kegiatan pengelolaan input (faktor produksi) menjadi suatu output. Produsen dalam melakukan kegiatan produksi, mempunyai landasan teknis, yang didalam teori ekonomi disebut “fungsi produksi”
     Teori produksi yang sederhana menggambarkan keterkaitan antara jumlah produksi dengan faktor produksi yang digunakan dalam proses produksi. Dengan kata lain, teori produksi memuat penjelasan mengenai dinamika hubungan antara input dan output produksi. Dala analisis, dianggap saja sejumlah tenaga kerja yang digunakan beubah, tetapin jumlah modal, luas tanah, dan tekhnologi yang digunakan adalah tetap.       
       Fungsi Produksi, adalah suatu persamaan yang menunjukan hubungan ketergantungan (fungsional) antara tingkat input yang digunakan dalam proses produksi dengan tingkat output yang dihasilkan. Fungsi produksi secara matematis dapat dinyatakan sebagai berikut : Q = f (K, L, R, T) Q = jumlah output (hasil produksi) K = modal (kapital) L = tenaga kerja (labor) R = kekayaan akan (raw material) T = teknologi Perlu diketahui bahwa teknologi tidak dianggap sebagai faktor produksi. Produksi Dengan Satu Input Variabel PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR- UMB Ir. Sahibul Munir, SE. M.Si. PENGANTAR MIKROEKONOMI 1
      Teori produksi yang sederhana menggambarkan hubungan antara tingkat output yang dihasilkan dengan jumlah tenaga kerja (labor) yang digunakan untuk menghasilkan output tersebut. Dalam analisis produksi dengan satu input variabel diasumsikan bahwa semua faktor produksi selain tenaga kerja (L) dianggap tetap. Sehingga fungsi produksi dengan satu input variabel : Q = f (L).Fungsi Produksi dengan Satu Input Variabel Tunduk pada “Law of Diminishing Return” yang menyatakan : bila satu macam input (labor) penggunaannya terus ditambah sebanyak satu unit, sedangkan input-input yang lain konstan, pada mulanya produksi total akan semakin banyak pertambahannya. Tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu produksi tambahan tersebut semakin menurun dan akhirnya mencapai nilai negatif. Keadaan ini akan menyebabkan produksi total semakin lambat pertambahannya, akhirnya ia mencapai tingkat maksimum dan kemudian menurun.
       Harus dipahami bahwa , dalam produksi diperlukan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan barang atau jasa. Dalam hal ini diharapkan setiap pertambahan satu unit faktor produksi akan menambah jumlah produksi Misalnya, tambahan jumlah tenaga kerja akan mengakibatkan bertambahnya output, meskipun faktor produksi lainnya tetap. Pertambahan output seperti inilah dinamakan produksi marjinal.
          Dengan kata lain , produksi marginal dari suatu faktor produksi merupkan output (keluaran) ekstra yang dihasilkan oleh tambahan satu unit faktor produksi. Untuk mengetahui produksi marjinal terlebih dahulu harus mengetahui dua hal yakni; pertama, pertambahan jumlah tenaga kerja. Kedua, pertambahan jumlah produksi secara keseluruhan. 
     Kedua hal tersebut bila dimasukkan kedalam rumus matematis, produk marginal (MP) akan menjadi sebagai berikut; MP=selisih atau TP dibagi selisih atau perubahan labour atau tenaga kerja. Produksi rata-rata (AP) dirumuskan secara matematis sebagai berikut. AP = TP dibagi selisih atau perubahan tenaga kerja. Atau dengan cara :   
  1.  Marginal Produck (MP) of labor (MP L) : extra output perunit change in labor used, MPL = ∆TP/∆L. 2) Average Produck (AP) of labor (AP L) = total product divede by the quantity of labor used. APL = TP/L.
  2. Fungsi produksi dengan satu input variabel (misal : tenaga kerja) tunduk pada hukum “the law of deminishing return ” yang menyatakan : Bila suatu macam input penggunaannya terus ditambah sebanyak 1 unit, sedangkan input yang lain konstan, pada mulanya Total Product(TP) akan semakin besar pertambahannya. Tetapi sesudah mencapai suatu tingkat tertentu “ produksi tambahan” semakin menurun hingga mencapai nol, dan ini menyebabkn total product semakin lambat pertambahannya dan akhirnya ia (TP) mencapai tingkat maksimum. Bila penambahan input terus dilanjutkan, maka MP-nya akan menjadi negatif dan TP-nya. Tahap- Tahap Produksi Pada hakekatnya the law of dimishing return menyatakan bahwa hubungan antara tingkat produksi dan jumlah input tenaga kerja yang digunakan dapat dibedakan menjadi 3 tahap : (1) Tahap Pertama : Produksi Total (Total Product) mengalami pertambahan yang semakin cepat. Tahap ini dimulai dari titik origin semakin kesatu titik pada kurva total product dimana AP (produksi rata-rata) maksimum, dan pada titik ini AP=MP (marginal product). (2) Tahap Kedua : Produksi Total (Total Product) pertambahannya semakin lama semakin kecil. Tahap II ini dimulai dari titik AP maksimum sampai titik dimana MP=0, atau TP maksimum. (3) Tahap Ketiga : Produksi total (total product) semakin lama semakin menurun. Tahap III ini meliputi daerah dimana MP negatif.PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR- UMB Ir. Sahibul Munir, SE. M.Si. PENGANTAR MIKROEKONOMI 4
  3.  Inflection point (titik belok) : yaitu titik dimana slope (lereng kurva total product (TP) mulai berubah• Faktor produksi tetap (fixed input) : yaitu input faktor produksi yang jumlahnya tidak dapat dirubah dengan segera mengikuti perubahan output. Contoh : Gedung, mesin, managerial, dll. • Faktor produksi variabel (variabel input) : yaitu input yang dapat mengikuti perubahan jumlah output yang dihasilkan. Tahap Produksi Paling Efisien 1) Tahap I menunjukan bahwa pada saat penggunaan input tenaga kerja (labor, L) masih sedikit, bila dinaikan penggunaannya, maka produksi rata-rata (average product, AP) naik dengan ditambahkannya input variabel. Dengan asumsi harga input tenaga kerja (L) tetap, maka dengan naiknya produksi rata-rata (cost of production per-unit) akan menurun dengan ditingkatkannya produksi (output). Dalam pasar persaingan sempurna (perfect competition), produsen tidak akan pernah beroperasi (berhenti berproduksi) pada tahap I ini, karena dengan memperbesar volume produksi, biaya produksinya perunit akan menurun, hal ini berarti akan memperbesar keuntungan yang ia terima. Jadi pada tahap I ini “efisiensi produksi” belum maksimal. 2) Tahap III meliputi daerah dimana produksi marginal (marginal product, MP) negatif. Pada tahap III ini penggunaan input tenaga kerja (L) sudah terlalu banyak, sehingga produksi total (total product, TP) justru akan menurun, jika penggunaan input tenaga kerja (L) tersebut diperbesar, karena MP negatif (efisiensi produksi telah melampaui kondisi maksimal). 3) Diantara tahap I dan tahap III terdapat tahap II. Maka berdasarkan pada keadaan tahap I dan tahap III dapat disimpulkan bahwa “efisiensi produksi maksimal” terjadi pada tahap II.PUSAT PENGEMBANGAN BAHAN AJAR- UMB Ir. Sahibul Munir, SE. M.Si. PENGANTAR MIKROEKONOMI 5

0 Response to "TAORI PRODUKSI"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel