Konsep Bersaing dalam persaingan, Beberapa Indikator Persaingan Global, Core Competencies dan Dimensinya.
Strategi Menghadapi Persaingan Bisnis Indikator Keberhasilan Persaingan Global dengan mengimplementasikan Total Quality Management(TQM). Etika Bisnis. Etika Bisnis di Era Globalisasi. Jenis Persaingan

Konsep Bersaing dalam persaingan,

Strategi Menghadapi Persaingan Bisnis

Salah satu tantangan dalam berbisnis adalah pesaing dalam bisnis serupa. Persaingan dalam dunia bisnis memang akan selalu ada dan tak bisa dihindari.

Berikut ini beberapa hal yang harus dipersiapkan untuk menghadapi persaingan bisnis, antara lain:
1. Konsep
Dalam menjalankan bisnis tidak hanya dibutuhkan ide dan usaha keras saja, diperlukan juga sebuah konsep yang matang. Konsep bisnis yang matang akan membantu dalam mengenali berbagai potensi dan pangsa pasar yang ingin dituju. Selain itu konsep bisnis yang matang akan membuat bisnis bisa berjalan lebih maksimal. Dalam menentukan konsep bisnis, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, misalnya selera pasar, gaya hidup masyarakat, daya beli, sampai ke persaingan bisnisnya.

2. Perencanaan
Konsep bisnis yang matang akan membantu dalam membuat perencanaan bisnis yang baik. Jika perencanaan bisnis tidak matang, akan sia-sia dan kemungkinan mengalami kerugian. Dalam perencanaan bisnis yang matang, harus menjabarkan visi dan misi perusahaan, rencana promosi, rencana pemasaran, rencana keuangan, sampai dengan menentukan analisis risiko yang mungkin akan dialami dalam bisnis, termasuk perencanaan untuk menghadapi pesaing.

3. Kenali Pesaing
Mencari tahu siapa pesaing dalam bisnis kita adalah salah satu hal yang penting dalam menjalankan bisnis. Cari tahu tentang produknya, berapa harganya, apa kelebihannya, dan sebagainya. Informasi itu sangat bermanfaat untuk menentukan strategis bisnis yang akan dijalankan.

4. Produk Berkualitas
Menciptakan produk berkualitas merupakan salah satu strategi dalam menghadapi persaingan bisnis. Ciptakan produk terbaik, produk kita harus memiliki kelebihan dibanding produk yang sudah ada di pasaran. Dengan memberikan produk yang berkualitas pelanggan akan menjadi puas. Berikan kualitas yang lebih bagus dibanding pesaing. Jika usaha makanan, maka berikan rasa yang lebih enak, kualitas bahan makanan yang lebih baik. Pastikan bahwa kualitas produk kita bagus dan bisa memuaskan konsumen, sehingga konsumen tidak pindah ke pesaing.

5. Promosi
Aktifitas promosi adalah bagian penting untuk menghadapi pesaing. Promosikan apa yang menjadi kelebihan produk kita. Promosikan melalui berbagai media dan lakukan secara konsisten agar produk kita dikenal oleh masyarakat luas. Buatlah promosi yang lebih gencar dibanding pesaing sehingga konsumen tetap fokus ke layanan dan  produk kita. Pastikan konsumen mengetahui program-program promosi dari produk kita. Gunakan berbagai media promosi untuk menjangkau konsumen lebih banyak, misalnya melalui media offline dan media online.

6. Inovasi
Persaingan dengan bisnis yang sejenis seringkali tak dapat dihindari. Namun sebenarnya persaingan ini bisa membuat kita menjadi lebih kreatif untuk berkreasi. Dengan persaingan akan membuat kita menjadi lebih inovatif untuk menciptakan sebuah nilai tambah dalam produk yang dijual.

7. Harga Bersaing
Dalam menghadapi persaingan bisnis, memberikan harga bersaing adalah salah satu strategi untuk meningkatkan penjualan dan melawan pesaing.

8. Sistem
Sebuah sistem bisnis yang baik akan membantu agar bisa bertahan lebih lama dan mendapat keuntungan yang diinginkan. Buat sistem bisnis yang baik. Setelah pondasi bisnis dirasa kuat, maka lakukan perluasan pasar dengan berbagai sistem usaha yang diinginkan, misalnya membuka cabang atau franchise.

9. Perluasan Pasar
Untuk menghadapi persaingan bisnis, salah satu cara yang bisa digunakan adalah dengan memperluas pasar. Perluasan pasar ini bisa berarti memperluas fokus dan target market yang disasar. Misalnya dengan menjual varian tambahan atau dilakukan dengan membuka cabang baru atau dengan cara memberikan ke konsumen layanan lebih berupa produk dengan jumlah lebih banyak, dengan harga yang sama dengan pesaing tapi kita bisa memberikan jumlah produk yang lebih banyak.

10. Layanan Lebih Baik
Fokuslah pada layanan pelanggan. Berikan layanan yang lebih baik kepada pelanggan. Dalam hal ini, kita bisa berikan ke konsumen berupa pilihan produk yang lebih banyak, lebih variatif, sehingga konsumen punya pilihan lebih banyak.

11. Program Khusus Pelanggan
Buatlah program khusus bagi pelanggan, hal ini penting untuk menjaga kesetiaan pelanggan. Misal program hadiah bagi pelanggan yang rutin membeli produk kita, cara lain misalnya dengan memberikan harga khusus pelanggan yang memang rutin membeli produk kita.

12. Evaluasi
Diperlukan juga evaluasi terhadap kelangsungan bisnis. Kita tak bisa begitu saja tutup mata dalam menjalankan bisnis, sebuah evaluasi terhadap kekurangan dan nilai lebih dalam berbisnis juga diperlukan untuk semakin memajukan bisnis yang dijalankan.

13. Berdoa
Jika semua hal tersebut di atas sudah kita lakukan, satu langkah yang tidak boleh kita lupakan adalah berdoa. Berserah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk hasil dari kerja keras dan kerja cerdas yang sudah kita lakukan...


Indikator Keberhasilan Persaingan Global dengan mengimplementasikan Total Quality Management(TQM)

    Peningkatan Kualitas atau mutu merupakan hal penting dalam kehidupan apalagi disaat sekarang ini dimana kita menghadapi era globalisasi dan banyak pesaing. Didalam kehidupan rumah tangga Mutu yang baik bagi seorang ibu rumah tangga adalah mencari cara bagaimana membuat masakan bergizi untuk anak-anaknya agar cerdas dan berguna kelak, bagi seorang Ayah bagaimana mencari nafkah agar kebutuhan hidup terpenuhi dengan baik, Begitupula peningkatan kualitas luaran bagi sekolah atau perguruan tinggi adalah bagaimana mendidik pelajar agar siap menghadapi dunia kerja atau siap berwirausaha, dan sebagainya. 
    Pada era persaingan pasar global dewasa ini, tuntutan konsumen atas peningkatan kualitas produk serta jasa bertambah dan semakin kompetitif sehingga terjadipeningkatan penawaran produk dan jasa dengan harga yang lebih bersaing serta biaya tenaga kerja rendah seperti yang terjadi pada negara-negara di kawasan timur, seperti China, Vietnam, dan India. 
    Satu hal yang sangat berarti dalam meningkatkan kinerja menghadapi tantangan persaingan tersebut, yaitu melalui perbaikan berkelanjutan pada aktivitas bisnis yang terfokus pada konsumen, dengan kualitas dan pengelolaannya dan dikaitkan dengan perbaikan berkelanjutan dilakukan oleh banyak perusahaan agar dapat mendorong peningkatan pasar untuk memenangkan persaingan. 
    Perusahaan yang tidak mengelola perubahan tersebut akan jauh tertinggal, sementara itu makin banyak perusahaan yang mengalami kemajuan yang sangat pesat. Salah satu cara yang bisa ditempuh oleh perusahaan sejalan dengan pergeseran paradigma organisasi dari ‘market oriented’ ke ‘resources oriented’, adalah dengan membenahi sumber daya yang dimilikinya agar bisa bertahan dalam persaingan jangka panjang dan salah satu cara yang tepat adalah dengan mengimplementasikan Total Quality Management (Muluk, 2003: 3). 
   Pada dasarnya Manajemen Kualitas(Quality Management)atau sering disebut juga sebagai Manajemen Kualitas Total(Total Quality Management = TQM) di definisikan sebagai suatu cara meningkatkan kinerja secara terus menerus (continuously performance improvement) pada setiap level operasi atau proses, dalam setiap area fungsional dari suatu organisasi, menggunakan semua sumber daya (manusia, modal, waktu, energi, informasi, dll) yang tersedia. (Gaspersz, 2013: 1). Sehingga hasil upaya-upaya tersebut menjadikan organisasi mampu merespon permintaan pasar atas kualitas produk, jasa dan proses yang telah dikembangkan secara meluas selama dua dekade terakhir. 
     Harus diakui bahwa Model implementasi TQM berasal dari negara Amerika Serikat (Western society) banyak dikembangkan di negara-negara maju yang harus disesuaikan jika diimplementasikan di negara lain, karena perbedaan struktur sosial, ekonomi, dan pandangan hidup khususnya nilai-nilai budaya. Individu yang berasal dari negara yang berbeda mempunyai perbedaan nilai-nilai, keyakinan, dan sikap yang dipengaruhi oleh latar belakang budaya. Sedangkan sampai saat ini hanya sedikit literatur tentang implementasi TQM di negara-negara Asia atau negara-negara berkembang yang memadai sehingga belum dapat membuktikan apakah TQM yang bekerja baik bagi perusahaan di suatu negara akan juga bekerja baik di negara lain. 
    Persaingan dan perubahan yang menantang juga telah memacu dunia industri di Indonesia untuk bisa beradaptasi dengan mengembangkan program-program yang dapat meningkatkan kompetensi mereka, agar mampu bersaing dengan efektif, membaur dengan budaya lokal sebagai kekuatan energi tambahan untuk menguasai pasar global. Untuk memastikan semua proses diatas berjalan baik dan sesuai dengan tujuan organisasi, perusahaan menerapkan suatu kebijakan manajemen strategi yang disebut dengan Management by Objective (MBO) dimana pengetahuan implisit/ intuisi ataupun eksplisit/ rasional harus sedimikian rupa disusun dan dikuasai dengan dukungan keberadaan struktur, ketersediaan proses, dan cakupan luaran yang relevan. 
   Dalam hal ini penetapan MBO merupakan piranti manajemen untuk mengetahui kemampuan dalam mengintegrasikan semua alat fungsional manajemen berjalan dengan baik. Melalui piranti MBO perusahaan akan berusaha meyakinkan semua bagian dapat membaur menjadi satu untuk dapat menyelesaikan permasalahan yang muncul, mendiskusikan akar penyebab masalah dan mencari solusi penyelesaian tanpa menimbulkan permasalahan baru pada salah satu bagian tertentu. Dengan dasar itulah MBO sebagai piranti sangat penting keberadaannya dalam membentuk budaya menyelesaikan masalah dengan melibatkan semua aspek organisasi/ problem solving together sehingga visi dan misi organisasi dapat terwujud. PT Panasonic Healtcare Indonesia berdiri pada tanggal 11 April 2011 dan telah memperoleh sertifikat Sistem Manajemen Mutu Standar ISO 9001;2008 pada 1 Januari 2013. Sistem Manajemen Mutu di PT. Panasonic Healthcare Indonesia diterapkan sejak awal proses produksi, yaitu: penentuan supplier, seleksi yang ketat terhadap bahan baku dan bahan penolong, dan proses monitoring pada setiap tahapan produksi sampai proses akhir produksi. 
    Perusahaan mengutamakan kepuasan konsumen dengan memproduksi alat-alat kesehatan berkualitas tinggi dengan standar internasional, hal ini terbukti dengan masih seratus prosen (100%) produksi yang dihasilkan untuk pemenuhan pasar global (ekspor). Selain hal tersebut diatas PT Panasonic Healthcare Indonesia juga menerapkan Safety Environmental Policy yang ketat dengan tujuan untuk mencegah pencemaran udara, air, maupun tanah sesuai dengan ambang batas kesehatan lingkungan yang ditetapkan oleh pemerintah. Supaya dapat diterima dengan baik oleh konsumen dan pasar global secara keseluruhan serta penguasaan pangsa pasar dominan (market leader) perusahaan menetapkan kebijakan sebagai berikut: 1. Kebijakan Mutu Perusahaan a.Mencapai Kepuasan Pelanggan (Customer Satisfaction) b.Kepatuhan terhadap Peraturan (Regulatory Compliance) Dengan sasaran utama; mematuhi peraturan (Regulatory), membuat produk yang bermutu tinggi dan aman (Quality and safety), pengurangan biaya (Cost) dan mengirim produk tepat waktu (Delivery). 2.Kebijakan Mutu Tahun Fiskal 2013 a.Kebijakan; Mempertahankan manufaktur unggul untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dan mematuhi peraturan. b.Slogan; Membentuk CSS image (Compliant & Secured Safety System) c.Target; ·Sistem Mutu : Mempertahankan sertigfikasi sistem ISO;9001 dan mematuhi persyaratan peraturan dan pelanggan ·Mutu pasar yang; “0” pelanggaran peraturan, “0” masalah safety, “0” perbaikan ulang di pasar, “0” masalah epidemik, “0” masalah ROHS ·Mutu parts dan proses; menurunkan kerusakan 30% ·Kerugian biaya; menurunkan kerugian 20% ·Pengiriman; 100% tepat waktu Kebijakan mutu yang diterapkan oleh perusahaan terbukti menjadikan perusahaan tetap bertahan/ survive dalam memenuhi permintaan konsumen dari waktu ke waktu. Perusahaan menetapkan pola kebijakan Management by Objective sebagai landasan berpikir manajemen strategik untuk mencapai tujuan organisasi. Atas dasar perbedaan teori maupun temuan hasil penelitian tentang implementasi TQM dan masih terbatasnya penelitian tentang implementasi TQM di negara berkembang jika dikaitkan dengan pengaruhnya terhadap kepercayaan pelanggan, maka peneliti tertarik untuk meneliti pola pengembangan manajemen dalam upayanya mengimplementasikan TQM yang pada akhirnya dapat meningkatkan daya saing dan peningkatan sumber daya manusia, dengan judul penelitian: Management by Objective sebagai Indikator Keberhasilan Implemetasi Total Quality Management (TQM) 
     Pembahasan Kualitas Secara klasik kualitas memiliki arti berfokus pada aktifitas yang mengandalkan strategi pendeteksian (strategy of detection) untuk mencegah lolosnya produk cacat ke tangan pelanggan, tidak memberikan kontribusi pada peningkatan mutu. Kualitas menurut pengertian modern berorientasi pada strategi pencegahan (strategy of prevention) sebelum terjadinya kerusakan dengan jalan melaksanakan aktivitas dengan baik dan benar pada saat pertama kali mulai melakukan suatu aktivitas, diusahakan meningkatkan mutu dan mampu mengurangi biaya produksi. 
      Dari segi linguistik kualitas berasal dari bahasa latin qualis yang berarti ‘sebagaimana kenyataannya’. Menurut Feigenbaum kualitas adalah gabungan keseluruhan karakteristik produk atau jasa dari bagian pemasaran, produksi, rekayasa, dan pemeliharaan yang membuat produk atau jasa yang dihasilkan sesuai dengan harapan pelanggan (dalam Tunggal, 2013:331). Menurut Juran (dalam Tunggal, 2013:332), produk bermutu bila memiliki kemampuan memenuhi kepuasan konsumen. 
Dimensi kemampuan memenuhi kepuasan konsumen 
Kemampuan ini dilihat dari 5 dimensi : ·Produk harus dapat digunakan sesuai keinginan pengguna ·Dapat diandalkan ·Mudah diperbaiki ·Mudah dipelihara/dirawat ·Mudah digunakan/sederhana Jack Welch (Corporate CEO General Electric) (dalam Gaspersz, 2012: 258) menyatakan bahwa: “Kita ingin mengubah GE melalui tidak hanya menjadi lebih baik dari pada pesaing-pesaing GE, tetapi melalui mengutamakan kualitas dan meningkatkan kinerja kualitas GE ke tingkat yang lebih tinggi dari pada semua pesaing GE.” Beberapa pakar kualitas mengakui dampak positif implementasi TQM, diantaranya menurut Hardjosoedarmo (2004:5) TQM merupakan pendekatan yang seharusnya dilakukan organisasi masa kini untuk memperbaiki kualitas produknya, menekan biaya produksi dan meningkatkan produktivitasnya. Implementasi TQM juga berdampak positif terhadap biaya produksi dan terhadap pendapatan (Gaspersz, 2005:3). Secara empiris Implementasi TQM juga diakui sangat berarti dalam menciptakan keunggulan perusahaan di seluruh dunia. Beberapa penelitian terdahulu telah membuktikan bahwa implemetasi TQM secara efektif berpengaruh positif terhadap: aktivitas dan motivasi kerja karyawan, dapat meningkatkan kepuasan karyawan, pengurangan biaya dan meningkatkan kinerja bisnis, kinerja manajerial dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (Tunggal, 2013:379 ). Beberapa pakar berpendapat bahwa keberhasilan maupun kegagalan implementasi TQM tersebut sebagian besar dipengaruhi oleh faktor budaya (Parncharoen dan dkk, 2005:597), karena TQM pada hakekatnya adalah program perubahan organisasi yang memerlukan transformasi budaya organisasi, proses, dan keyakinan (Parncharoen dan dkk, 2005:12). TQM dapat berhasil diimplementasikan dan diinstitusionalisasikan, dibutuhkan perubahan-perubahan dalam manejemen sumber daya manusia. Praktek-praktek manajemen sumber daya manusia tidak bebas sendiri, tetapi terkait dengan paket TQM dan harus selaras dengan perubahan-perubahan proses. Perubahan dibutuhkan dalam hal seleksi karyawan, pelatihan dan pengembangan, penilaian kinerja, serta penetapan balas jasa dan penghargaan kepada karyawan. (Gaspersz, 2013:75) Selain hal tersebut diatas, dalam situasi persaingan yang semakin ketat seperti saat ini dan di masa yang akan datang, suatu organisasi sangat membutuhkan keunggulan dalam bersaing salah satunya adalah keunggulan SDM. (Sefudin et.al, 2012:7) Prinsip fokus pelanggan merupakan keterkaitan antara implementasi TQM dan pengaruhnya terhadap pelanggan dikemukakan oleh Gaspersz (2013:8), bahwa implementasi TQM dapat meningkatkan loyalitas pelanggan dan efektifitas penggunaan sumber-sumber daya organisasi menuju peningkatan kepuasan pelanggan. Dalam kenyataannya kualitas adalah konsep yang cukup sulit untuk dipahami dan disepakati. Dewasa ini kata kualitas mempunyai beragam interpretasi, tidak dapat didefinisikan secara tunggal, dan sangat tergantung pada konteksnya. Pandangan Shewart’s tentang kualitas (Yuri dan Nurchayo, 2013:15) ukuran kualitas ialah sebuah hitungan yang mungkin bernilai numerik yang berbeda-beda. Dengan kata lain, ukuran kualitas tersedia meski tidak berhubungan dengan definisi kualitas. Dale (2003:12-20), menyimpulkan beberapa hasil survey yang terfokus pada persepsi arti pentingnya kualitas produk dan jasa, diantaranya: persepsi publik atas kualitas produk dan jasa yang semakin luas, meningkatnya pandangan dan peran manajemen puncak, kualitas tidak dapat dinegosiasikan (quality is not negotiable), kualitas meliputi semua hal (quality is all-pervasive), kualitas meningkatkan produktivitas, kualitas mempengaruhi kinerja yang lebih baik pada pasar, kualitas berarti meningkatkan kinerja bisnis, Biaya non kualitas yang tinggi, konsumen adalah raja, kualitas adalah pandangan hidup (way of life). Sedangkan Render dan Herizer (2004:93-96) berpendapat bahwa kualitas terutama mempengaruhi perusahaan dalam empat hal, yaitu: a.Reputasi perusahaan: reputasi perusahaan mengikuti reputasi kualitas yang dihasilkan. Kualitas akan muncul bersamaan dengan persepsi mengenai produk baru perusahaan, praktek-praktek penanganan pegawai, dan hubungannya dengan pemasok. b.Biaya dan pangsa pasar: kualitas yang ditingkatkan dapat mengarah kepada peningkatan pangsa pasar dan penghematan biaya, keduanya juga dapat mempengaruhi profitabilitas. Gambar 2.1 : Gambar kualitas memperbaiki kemampuan meraih laba Hasil yang diperoleh dari pasar ·Perbaikan Reputasi ·Peningkatan Volume ·Peningkatan Harga Perbaikan kualitasPeningkatan Laba Hasil yang diperoleh dari pasar ·Perbaikan Reputasi ·Peningkatan Volume ·Peningkatan Harga Sumber ; Render dan Heizer (2004;94) c. Pertanggungjawaban produk: organisasi memiliki tanggung jawab yang besar atas segala akibat pemakaian barang maupun jasa. d.Implikasi internasional: dalam era teknologi, kualitas merupakan perhatian operasional dan internasional. Agar perusahaan dan negara dapat bersaing secara efektif dalam perekonomian global, produknya harus memenuhi kualitas dan harga yang diinginkan. Produk yang diinginkan konsumen dan memenuhi kualitas yang mereka harapkan adalah ketika semua unsur pengembangan produk diterapkan secara maksimal. Tim inti product development (bagian marketing/pemasaran, desain, dan teknik) harus duduk bersama dan memikirkan semua aspek kualitas produk yang akan dikembangkan. Aspek kualitas menurut Garvin (dalam Nuri dan Nurcahyo, 2013:20) meliputi : ·Performance: kesesuaian produk dengan fungsi utama produk itu sendiri ·Feature: ciri khas produk yang membedakan dari produk lain ·Reliability: kepercayaan pelanggan terhadap produk karena keandalanya atau karena kemungkinan kerusakan yang rendah. ·Conformance: kesesuain produk dengan syarat, ukuran, karakteristik desain, dan operasi yang ditetapkan. ·Durability: tingkat ketahanan/keawetan produk atau lama umur produk ·Serviceability: kemudahan perbaikan atau ketersediaan komponen produk ·Aesthetic: keindahan atau daya tarik produk ·Perception: fanatisme konsumen akan merek produk tertentu karena citra atau reputasinya. Konsep kualitas dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang mempengaruhi kepuasan pelanggan terhadap kebutuhannya. Selera konsumen terhadap barang selalu berubah dan cenderung meningkat. Hal ini tentu mempengaruhi ekspetasi konsumen terhadap produk yang menjadi kebutuhannya, sehingga kualitas sering diartikan sebagai kepuasan pelanggan (costumer satisfaction), atau kesesuaian terhadap kebutuhan (conformance to the requirements) Gambar : Ilustrasi Change of Customer Needs 1st. Price, 2nd. Quality 3rd. Quality and price Sumber ; Yuri dan Nurcahyo (2013;13) “Quality is a customer, not an engineer’s determination, not a marketing determination, or a general menegement determination. It is based upon the customer’s actual experience with the product or service, measured against his/her requirements – stated or unstated, conscious or merely sensed – and always represents a moving target.” (Arman V. Feigenbaum) 2. Evolusi Total Quality Manajement Diawali dari aktivitas inspeksi yang sederhana, kemudian dilengkapi dengan pengendalian kualitas, dan yang mutakhir adalah jaminan kualitas dikembangkan dan disempurnakan. Dewasa ini beberapa organisasi menggunakan proses perbaikan berkelanjutan menyeluruh yang dikenal dengan Total Quality Management atau sering disebut sebagai Manajemen Kualitas Total. Pendekatan terhadap kualitas ber-evolusi melalui rangkaian penyempurnaan bertahap yang melintasi abad terakhir. (Yuri dan Nurcahyo, 2013:14) membedakan tahapan evolusi manajemen kualitas tersebut berdasarkan pada : 1.Era Permulaan Revolusi Industri Pada masa ini, jumlah produsen jauh lebih sedikit dibanding dengan permintaan pasar, produsen memasok produk tanpa memperdulikan aspek kualitas. 2.Era Inspeksi Pada masa ini produsen sudah mulai berkompetisi, para pemasok mulai melakukan inspeksi untuk memisahkan produk yang rusak dari yang bagus. 3.Era Kualitas Statistik Walter A Stewart memberikan pijakan qualitas melalui penerbitan bukunya “Economic Control of Quality of Manufactured Product” 4.Era Penjaminan Kualitas Pada masa ini koordinasi dengan bidang lainnya, seperti desai teknik, perencanaan dan aktivitas pelayanan, juga menjadi pentinguntuk kualitas. 5.Era Penjaminan Kualitas Terpadu (Total Quality Management, TQM) Era ini masih terus berkembang sampai saat ini, “continous improvement” merupakan tema utamanya. Dengan pemahaman bahwa persyaratan konsumen merupakan sasaran yang selalu bergerak, sejalan dengan bertambahnya pengalaman dan pengetahuan konsumen. Pengalaman dan pengetahuan konsumen secara bersamaan akan membentuk persepsi konsumen tertentu, yang disebut dengan “customer mindset.” Sedangkan Britihs and International Standars membagi evolusi TQM menjadi empat tahapan (Dale, 2003:21), yaitu: a. Inspeksi (inspection): evaluasi konfirmasi melalui observasi dan penilaian atas hasil pengukuran, pengujian, atau pendugaan. b.Pengendalian kualitas (quality control): bagian dari manajemen kualitas yang terfokus pada pemenuhan standart kualitas . c. Jaminan kualitas (quality assurance): bagian dari manajemen kualitas yang terfokus pada penyajian kepercayaan bahwa tolok ukur kualitas akan selalu terpenuhi. d. Manajemen mutu terpadu (total quality management): melibatkan aplikasi prinsip-prinsip manajemen kualitas pada semua aspek. Implementasi Total Quality Management Beberapa pakar kualitas telah mengemukakan cara mengimplementasikan TQM berdasarkan pendekatan yang berbeda. Pendekatan lainnya adalah secara inkremental dilakukan oleh perusahaan yang membangun kualitas secara gradual dan bertahap. Sebagian besar implementasi TQM dewasa ini dilakukan secara inkremental karena pada hakekatnya merupakan pendekatan prosesmenuju perubahan budaya kualitas. Keberhasilan TQM tergantung pada kontribusi sumber daya manusia. langkah pertama dari implementasi TQM adalah membentuk tim kerjasama untuk bertindak sebagai kekuatan pendorong dari proses implementasi. (Gaspersz, 2013;75) Secara garis besar proses implementasi TQM mencakup: 1. Manajemen puncak harus menjadikan TQM sebagai prioritas utama organisasi, visi yang jelas dan dapat dicapai, menyusun tujuan yang agresif bagi organisasi dan setiap unit, dan terpenting menunjukkan komitmen terhadap TQM melalui aktivitas mereka. 2. Budaya organisasi harus diubah sehingga setiap orang dan setiap proses menyertakan konsep TQM. Organisasi harus diubah paradigmanya, fokus pada konsumen, segala sesuatu yang dikerjakan diselaraskan untuk memenuhi harapan konsumen. 3. Kelompok kecil dikembangkan pada keseluruhan organisasi untuk memahami kualitas, identifikasi keinginan konsumen, dan mengukur kemajuan dan kualitas. Masing-masing kelompok bertanggung jawab untuk mencapai tujuan mereka sebagai bagian dari tujuan organisasi keseluruhan. 4. Perubahan dan perbaikan berkelanjutan harus diimplementasikan, dipantau, dan disesuaikan atas dasar hasil analisis pengukuran. Tahap awal dalam TQM implementasi adalah menilai keadaan organisasi yang ada. Jika organisasi terbukti mempunyai kepekaan efektif terhadap lingkungan dan mampu mensukseskan perubahan sebelumnya, TQM akan mudah diimplementasikan. Sebaliknya jika kenyataan yang ada tidak mendukung kondisi awal yang diperlukan, Implementasi TQM ditunda dan organisasasi harus ‘disehatkan’ sebelum mengawali TQM. Berlandaskan prinsip-prinsip dan prakondisi yang tepat, tahapan implementasi berikutnya adalah menggunakan kepemimpinan (visionary leadership) untuk mencapai visi masa depan organisasi dan bagaimana memasukan program TQM yang tepat, mendisain proses perubahan yang komprehensif, implementasi TQM dan kaitannya dengan sistem baru, dan legalitas kelembagaan. Kepemimpinan adalah elemen kunci keberhasilan implementasi dalam skala yang besar: pemimpin menunjukkan kebutuhan dan menyusun visi, mendefinisikan latar belakang, tujuan, dan parameter TQM. Pemimpin mempunyai perspektif jangka panjang dan harus mampu memotivasi bawahan tertuju pada proses selama tahap awal jika ada penolakan dan hambatan. Hal tersebut diperlukan dalam menegakkan budaya oganisasi yang dilengkapi dengan TQM, memelihara dan memperkuat peningkatan kualitas berkelanjutan. Dalam mendisain proses perubahan komprehensif, pemimpin harus mengetahui budaya organisasi yang ada (norma-norma, nilai-nilai, filosofi, dan gaya kepemimpinan manajer pada semua level) untuk menjamin ketepatan implementasi TQM. Implementasi TQM secara esensial melibatkan tranformasi organisasi: diawali dari operasi dengan cara baru, mengembangkan budaya baru, juga melibatkan desain ulang sistem-sistem yang lain. Konsisten dengan perspektif sistem, sistem alokasi anggaran dan sumberdaya perlu diarahkan sesuai dengan budaya TQM: TQM pada hakekatnya adalah sistem manajemen sumberdaya manusia: pekerjaan mungkin didisain ulang sebagai implementasi kelompok kerja yang mandiri; penilaian kinerja dan sistem kompensasi mungkin diubah menjadi imbalan berdasarkan kinerja kelompok; dan pelatihan bagi manajer, penyelia, dan karyawan sangat diperlukan. Terakhir, perhatian sepenuhnya diperlukan pada berbagai kegiatan dengan menggunakan umpan balik dari konsumen. Selanjutnya menurut Beckhard dan Pritchard (dalam Hashmi 2003: 6-7),tahapan dasar dalam mengelola transisi menuju sistem baru TQM adalah: 1. Identifikasi tugas yang akan dikerjakan meliputi studi kondisi yang ada, menilai kesiapan, menentukan model yang diinginkan, dan menilai penanggung jawab dan sumberdaya. Tahapan ini menjadi tanggung jawab manajemen puncak. 2. Menyusun struktur manajemen yang diperlukan juga merupakan tanggung jawab manajemen puncak. Organisasi membentuk steering commite untuk mengawasi implementasi TQM. 3. Mengembangkan strategi untuk membangun komitmen, sebagaimana telah dibahas pada arti pentingnya kepemimpinan dalam TQM. 4. Mendisain mekanisme untuk mengkomunikasikan perubahan. Pertemuan semua staf khusus perlu dilakukan oleh eksekutif, perlu didisain waktu dialog dan penyampaian masukan, dapat menggunakan proses pencanangan (kick off) dan buletin TQM mungkin merupakan alat komunikasi yang efektif untuk memelihara kesadaran karyawan terhadap implementasi TQM. 5. Mengelola sumberdaya bagi upaya perubahan adalah penting bagi TQM. Konsultan luar dilibatkan dalam menentukan kebutuhn pelatihan, mendisain staf dan sistem TQM. Karyawan harus terlibat aktif dalam implementasi TQM. Setelah memperoleh pelatihan mengelola perubahan, mereka dapat meneruskan kepada karyawan yang lain. Beberapa kunci keberhasilan implementasi TQM pada level mikro yang telah diidentifikasi oleh the US Federal Quality Institute adalah: 1. Dukungan manajemen puncak diperlukan dan direpresentasikan sebagai bagian perencanaan strategis TQM. 2. Fokus pada konsumen merupakan prakondisi terpenting, karena TQM menyangkut peningkatan kualitas atas tuntutan konsumen. 3. Karyawan atau kelompoknya harus dilibatkan sejak awal, khususnya dalam hal pelatihan dan pengakuan eksistensi karyawan, dan isu-isu pemberdayaan karyawan dan kelompok kerja. Perhatian pada isu-isu tersebut penting dalam perubahan budaya organisasi yang mengarah pada kelompok kerja, serta fokus pada konsumen dan kualitas 4. Pengukuran dan analisis proses dan produk, serta jaminan kualitas adalah elemen terakhir yang perlu mendapat perhatian. Sedangkan menurut pendapat Padhi (2004:1-3), Untuk mensukseskan Implementasi TQM, suatu organisasi harus terkosentrasi pada delapan elemen kunci. Elemen-elemen tersebut terbagi ke dalam empat kelompok berdasarkan fungsinya, yaitu: (1) Pondasi: etika, integritas, dan kepercayaan. (2) Dinding: pelatihan, kelompok kerja, dan kepemimpinan. (3) Pengikat dan penguat: komunikasi, dan (4) Atap: pengakuan.
ETIKA BISNIS
Pengertian Etika bisnis adalah perwujudan dari nilai-nilai moral. Hal ini disadari oleh sebagian besar pelaku usaha, karena mereka akan berhasil dalam usaha bisnisnya jika mengindahkan prinsip-prinsip etika bisnis. Jadi penegakan etika bisnis penting artinya dalam menegakkan iklim persaingan usaha sehat yang kondusif.
Di Indonesia, penegakan etika bisnis dalam persaingan bisnis semakin berat. Kondisi ini semakin sulit dan kompleks, karena banyaknya pelanggaran terhadap etika bisnis oleh para pelaku bisnis itu sendiri, sedangkan pelanggaran etika bisnis tersebut tidak dapat diselesaikan melalui hukum karena sifatnya yang tidak terikat menurut hukum.
Persaingan usaha yang sehat akan menjamin keseimbangan antara hak produsen dan konsumen. Indicator dari persaingan yang sehat adalah tersedianya banyak produsen, harga pasar yang terbentuk antara permintaan dan penawaran pasar, dan peluang yang sama rari setiap usaha dalam bidang industry dan perdagangan. Adanya persaingan yang sehat akan menguntungkan semua pihak termasuk konsumen dan pengusaha kecil, dan produsan sendiri, karena akan menghindari terjadinya konsentrasi kekuatan pada satu atau beberapa usaha tertentu.
Tanpa kepastian hukum, maka mekanisme pasar akan terancam. Adanya hukum yang pasti akan memelihara ketertiban dan menjamin transparasi pasar. Makalah ini bertujuan untuk mengkaji relevansi etika bisnis dengan persaingan usaha di Indonesia.
Terdapat hubungan yang erat antara etika bisnis dan persaingan usaha. Terdapatnya aspek hukum dan aspek etika bisnis sangat menentukan terwujudnya persaingan yang sehat. Dalam bisnis, terdapat bersaingan yang ketat, yang kadang – kadang menyebabkan pelaku bisnis menghalalkan segala cara untuk memperoleh keuntungan usaha dan memenangkan persaingan.
Etika bisnis merupakan suatu bidang ilmu ekonomi yang terkadang dilupakan banyak orang, padahal melalui etika bisnis inilah seseorang dapat memahami suatu bisnis persaingan yang sulit sekalipun, bagaimana bersikap manis, menjaga sopan santun, berpakaian yang baik sampai bertutur kata semua itu ada “meaning” nya. Bagaimana era global ini dituntut untuk menciptakan suatu persaingan yang kompetitif sehingga dapat terselesaikannya tujuan dengan baik, kolusi, korupsi, mengandalkan koneksi, kongkalikong menjadi suatu hal yang biasa dalam tatanan kehidupan bisnis, yang mana prinsip menguasai medan dan menghalalkan segala cara untuk memenangkan persaingan menjadi suatu hal yang lumrah, padahal etikanya tidak begitu.
Globalisasi adalah proses yang meliputi seluruh dunia dan menyebabkan system ekonomi serta sosial negara-negara menjadi terhubung bersama, termasuk didalamnya barangbarang, jasa, modal, pengetahuan, dan peninggalan budaya yang diperdagangkan dan saling berpindah dari satu negara ke negara lain. Proses ini mempunyai beberapa komponen, termasuk didalamnya penurunan rintangan perdagangan dan munculnya pasar terbuka dunia, kreasi komunikasi global dan system transportasi seperti internet dan pelayaran global, perkembangan organisasi perdagangan dunia (WTO), bank dunia, IMF, dan lain sebagainya.

Etika Bisnis
     Etika bisnis adalah cara-cara untuk melakukan kegiatan bisnis, yang mencakup seluruh aspek yang berkaitan dengan  individu,  perusahaan, industri dan juga masyarakat. Kesemuanya ini mencakup bagaimana kita menjalankan bisnis secara adil, sesuai dengan hukum yang berlaku, dan tidak tergantung pada kedudukan individu ataupun perusahaan di masyarakat. Etika bisnis lebih luas dari ketentuan yang diatur oleh hukum, bahkan merupakan standar yang lebih tinggi dibandingkan standar minimal ketentuan hukum, karena dalam kegiatan  bisnis seringkali kita temukan wilayah abu-abu yang tidak diatur oleh ketentuan hokum (Barten, 2000).
Menurut (Mustika, 2010) etika bisnis dalam perusahaan memiliki peran yang sangat penting, yaitu untuk membentuk suatu perusahaan yang kokoh dan memiliki daya saing yang tinggi serta mempunyai kemampuan menciptakan nilai (value-creation) yang tinggi, diperlukan suatu landasan yang kokoh. Biasanya dimulai dari perencanaan strategis , organisasi yang baik, sistem prosedur yang transparan didukung oleh budaya perusahaan yang andal serta etika perusahaan yang dilaksanakan secara konsisten dan konsekuen. 

Haruslah diyakini bahwa pada dasarnya praktek etika bisnis akan selalu menguntungkan perusahaan baik untuk jangka menengah maupun jangka panjang, karena :
Mampu mengurangi biaya akibat dicegahnya kemungkinan terjadinya friksi, baik intern perusahaan maupun dengan eksternal. Mampu meningkatkan motivasi pekerja. Melindungi prinsip kebebasan berniaga. Mampu meningkatkan keunggulan bersaing.

Perusahaan
        Perusahaan ialah suatu tempat untuk melakukan kegiatan proses produksi barang atau jasa. Hal ini disebabkan karena ‘ kebutuhan ‘ manusia tidak bisa digunakan secara langsung dan harus melewati sebuah ‘ proses ‘ di suatu tempat, sehingga inti dari perusahaan ialah ‘ tempat melakukan proses ‘ sampai bisa langsung digunakan oleh manusia. Untuk menghasilkan barang siap konsumsi, perusahaan memerlukan bahan – bahan dan faktor pendukung lainnya, seperti bahan baku, bahan pembantu, peralatan dan tenaga kerja. Untuk memperoleh bahan baku dan bahan pembantu serta tenaga kerja dikeluarkan sejumlah biaya yang disebut biaya produksi (Abiyoga, 2012).
Hasil dari kegiatan produksi adalah barang atau jasa, barang atau jasa inilah yang akan dijual untuk memperoleh kembali biaya yang dikeluarkan. Jika hasil penjualan barang atau jasa lebih besar dari biaya yang dikeluarkan maka perusahaan tersebut memperoleh keuntungan dan sebalik jika hasil jumlah hasil penjualan barang atau jasa lebih kecil dari jumlah biaya yang dikeluarkan maka perusaahaan tersebut akan mengalami kerugian. Dengan demikian dalam menghasilkan barang perusahaan menggabungkan beberapa faktor produksi untuk mencapi tujuan yaitu keuntungan (Ramdhan, 2010).
Perusahaan merupakan kesatuan teknis yang bertujuan menghasilkan barang atau jasa. Perusahaan juga disebut tempat berlangsungnya proses produksi yang menggabungkan faktor – faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa. Perusahaan merupakan alat dari badan usaha untuk mencapai tujuan yaitu mencari keuntungan. Lembaga yang melakukan usaha pada perusahaan disebut pengusaha, para pengusaha berusaha dibidang usaha yang beragam (Anonim , 2012).

Peran dan Manfaat Etika
Seorang manusia akan menyelaraskan segala tindak-tanduk dan tingkahlaku menurut etika yang berlaku di lingkup dia bertempat tinggal dan atau bekerja. Tidak ada satupun manusia yang dapat hidup sebebas-bebasnya karena manusia hidup dalam suatu konstelasi tingkahlaku standar, religi, norma, nilai moralitas, dan  hukum yang mengatur bagaimana seseorang harus bertindak dan mengendalikan semangat  kebebasan (freedom) serta tunduk terhadap etika yang disepakati secara luas.
Standar moral yang dikenakan atas orang per orang dianggap menghalangi kebebasan individu (Lukes, 1973). Menurut paham sosialis,  kebebasan dianggap sebagai pemerataan pembagian kekuasaan dan tentunya juga kebebasan. Istilahnya, kebebasan tanpa kesetaraan adalah serupa dengan penjajahan oleh mereka yang berkuasa.
Etika pada dasarnya adalah standar atau moral yang menyangkut benar-salah, baik-buruk. Dalam kerangka konsep etika bisnis terdapat aturan-aturan moral yang dibuat untuk dipatuhi guna kelangsungan hidup suatu perusahaan agar dapat berjalan dengan semestinya sesuai dengan yang telah diharapkan.
Peran etika bisnis bagi perusahaan dapat diliha pada :
Nilai-nilai Perusahaan
Nilai-nilai perusahaan merupakan landasan moral dalam mencapai visi dan misi perusahaan. Oleh karena itu,  sebelum merumuskan nilai-nilai perusahaan, perlu dirumuskan visi dan misi perusahaan. Walaupun nilai-nilai perusahaan pada dasarnya universal, namun dalam merumuskannya perlu disesuaikan dengan sektor usaha serta karakter dan letak geografis dari masing-masing perusahaan. Nilai-nilai perusahaan yang universal antara lain adalah terpercaya, adil dan jujur.


Pedoman Perilaku
Pedoman perilaku merupakan penjabaran nilai-nilai perusahaan dan etika bisnis dalam melaksanakan usaha sehingga menjadi panduan bagi organ perusahaan dan semua karyawan perusahaan; Pedoman perilaku mencakup panduan tentang benturan kepentingan, pemberian dan penerimaan hadiah dan donasi, kepatuhan terhadap peraturan, kerahasiaan informasi, dan pelaporan terhadap perilaku yang tidak etis.

Benturan Kepentingan
Benturan kepentingan adalah keadaan dimana terdapat konflik antara kepentingan ekonomis perusahaan dan kepentingan ekonomis pribadi pemegang saham, angggota Dewan Komisaris dan Direksi, serta karyawan perusahaan; Dalam menjalankan tugas dan kewajibannya, anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan harus senantiasa mendahulukan kepentingan ekonomis perusahaan diatas kepentingan ekonomis pribadi atau keluarga, maupun pihak lainnya; Anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan dilarang menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan atau keuntungan pribadi, keluarga dan pihak-pihak lain; Dalam hal pembahasan dan pengambilan keputusan yang mengandung unsur benturan kepentingan, pihak yang bersangkutan tidak diperkenankan ikut serta; Pemegang saham yang mempunyai benturan kepentingan harus mengeluarkan suaranya dalam RUPS sesuai dengan keputusan yang diambil oleh pemegang saham yang tidak mempunyai benturan kepentingan; Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan yang memiliki wewenang pengambilan
keputusan diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak memiliki benturan kepentingan terhadap setiap keputusan yang telah dibuat olehnya dan telah melaksanakan pedoman perilaku yang ditetapkan oleh perusahaan.
Pemberian dan Penerimaan Hadiah dan Donasi
Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan dilarang memberikan atau menawarkan sesuatu, baik langsung ataupun tidak langsung, kepada pejabat Negara dan atau individu yang mewakili mitra bisnis, yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan; Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan dilarang menerima sesuatu untuk kepentingannya, baik langsung ataupun tidak langsung, dari mitra bisnis, yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan; Donasi oleh perusahaan ataupun pemberian suatu aset perusahaan kepada partai politik atau seorang atau lebih calon anggota badan legislatif maupun eksekutif, hanya boleh dilakukan sesuai dengan peraturan perundang- undangan. Dalam batas kepatutan sebagaimana ditetapkan oleh perusahaan, donasi untuk amal dapat dibenarkan; Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak memberikan sesuatu dan atau menerima sesuatu yang dapat mempengaruhi pengambilan keputusan.

Kepatuhan terhadap Peraturan
Organ perusahaan dan karyawan perusahaan harus melaksanakan peraturan perundang-undangan dan peraturan perusahaan; Dewan Komisaris harus memastikan bahwa Direksi dan karyawan perusahaan melaksanakan peraturan perundang-undangan dan peraturan perusahaan; Perusahaan harus melakukan pencatatan atas harta, utang dan modal secara benar sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
·         Kerahasiaan Informasi
Anggota Dewan Komisaris dan Direksi, pemegang saham serta karyawan perusahaan harus menjaga kerahasiaan informasi perusahaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan, peraturan perusahaan dan kelaziman dalam dunia usaha; Setiap anggota Dewan Komisaris dan Direksi, pemegang saham serta karyawan perusahaan dilarang menyalahgunakan informasi yang berkaitan dengan perusahaan, termasuk tetapi tidak terbatas pada informasi rencana pengambil-alihan, penggabungan usaha dan pembelian kembali saham;
Setiap mantan anggota Dewan Komisaris dan Direksi serta karyawan perusahaan, serta pemegang saham yang telah mengalihkan sahamnya, dilarang mengungkapkan informasi yang menjadi rahasia perusahaan yang diperolehnya selama menjabat atau menjadi pemegang saham di perusahaan, kecuali informasi tersebut diperlukan untuk pemeriksaan dan penyidikan sesuai dengan peraturan perundang undangan, atau tidak lagi menjadi rahasia milik perusahaan.
·         Pelaporan terhadap pelanggaran Pedoman Perilaku
Dewan Komisaris berkewajiban untuk menerima dan memastikan bahwa pengaduan tentang pelanggaran terhadap etika bisnis dan pedoman perilaku perusahaan diproses secara wajar dan tepat waktu; Setiap perusahaan harus menyusun peraturan yang menjamin perlindungan terhadap individu yang melaporkan terjadinya pelanggaran terhadap etika bisnis dan pedoman perilaku perusahaan. Dalam pelaksanannya, Dewan Komisaris dapat memberikan tugas kepada komite yang membidangi pengawasan implementasi GCG.
Berikut ini merupakan manfaat etika bisnis yang baik dijalankan oleh perusahaan-perusahaan maupun organisasi :
1.      Pengendalian diri
2.      Pengembangan tanggung jawab sosial perusahaan
3.      Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
4.      Dapat menciptakan persaingan yang sehat antar perusahaan maupun organisasi
5.      Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan”
6.      Guna menghindari sifat KKN ( Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ) yang dapat merusak tatanan moral
7.      Dapat mampu menyatakan hal benar itu adlah benar
8.      Membentuk sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah
9.      Dapat konsekuen dan konsisten dengan aturan-aturan yang telah disepakati bersama
10.  Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah dimiliki.


Etika Bisnis di Era Globalisasi
Bisnis merupakan sebuah kegiatan yang telah mengglobal. Setiap sisi kehidupan diwarnai oleh bisnis. Dalam lingkup yang besar, Negara pastinya terlibat dalam proses bisnis yang terjadi. Tiap-tiap Negara memiliki sebuah karakteristik sumber daya sendiri sehingga tidak mungkin semua Negara merasa tercukupi oleh semua sumber daya yang mereka miliki. Mulai dari ekspedisi Negara Eropa mencari rempah-rempah di Asia sampai perdagangan minyak Internasional merupakan bukti bahwa dari dulu sampai sekarang sebuah Negara tidak dapat bertahan hidup tanpa keberadaan bisnis dengan Negara lainnya. Dewasa ini, pengaruh globalisasi juga menjadi faktor pendorong terciptanya perdagangan internasional yang lebih luas. Kemajemukan ekonomi dan sistem perdagangan berkembang menjadi sebuah kesatuan sistem yang saling membutuhkan. Ekspor-Impor multinasional menjadi sesuatu yang biasa. Komoditi nasional dapat diekspor menjadi pendapatan Negara, serta produk-produk asing dapat diimpor demi memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri.
Setiap Negara terus mengeksplorasi bisnis ke luar negeri selain untuk mendapatkan yang mereka inginkan, juga menaikkan tingkat ekonomi yang ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa Bisnis multinasional merupakan kesempatan untuk meraih pundi-pundi uang demi meningkatkan tingkatan ekonomi, terutama Negara berkembang yang rata-rata memiliki nilai tukar mata uang yang rendah. Developing country mendapat keuntungan dengan kemudahan untuk mengekspor barang domestiknya ke luar dan kemudahan untuk mendapatkan investor asing sebagai penanam dana bagi usaha-usaha dalam negeri. Sedangkan developed country lebih mudah dalam mendapatkan barang/jasa yang mereka inginkan.
Ada kesempatan yang terbuka lebar maka pasti ada persaingan untuk mendapatkannya. Berikut ini ada dua macam keuntungan yang dapat digunakan sebagai modal untuk meraih keberhasilan:
a)      Keuntungan absolut, disaat sebuah Negara dapat memproduksi sesuatu produk yang lebih murah dan/atau kualitas yang lebih tinggi dari Negara lain. Contohnya Indonesia memiliki keunggulan karena memiliki kekayaan alam yang berlimpah seperti minyak. Sehingga Indonesia dapat menjual minyak lebih murah.
b)      Keuntungan komparatif, disaat sebuah Negara memproduksi barang dengan lebih efisien atau lebih baik daripada Negara lain yang memproduksi barang yang sama. Contohnya produsen mobil sport Ferrari dalam penggunaan teknologi terpadu pada pembuatan mobil balap.
Tidak semua kesempatan bisnis global dapat langsung digunakan. Terdapat beberapa halangan yang dapat menghadang perdagangan internasional seperti perbedaan sosial dan budaya, perbedaan ekonomi dan perebedaan hukum dan politik. Perusahaan harus mampu menyikapi barrier tersebut
Selain social budaya, ekonomi dan hukum-politik, yang perlu diperhatikan oleh perusahaan adalah Etika Bisnis. Etika bisnis adalah perilaku baik atau buruk berdasarkan kepercayaan perseorangan dan norma sosial dengan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Kode Etik yang ada bersumber dari pandangan anak-anak ke perilaku orang dewasa, pengalaman, perkembangan nilai serta moral, dan pengaruh kawan.
Tujuan diciptakanya kode etik adalah:
1.      Meningkatkan kepercayaan publik pada bisnis.
2.      Berkurangnya potensial regulasi pemerintah yang dikeluarkan sebagai aktivitas kontrol.
3.      Menyediakan pegangan untuk dapat diterima sebagai pedoman.
4.      Menyediakan tanggungjawab atas prilaku yang tak ber-etika.
Tanggung jawab sosial juga merupakan juga hal yang penting. Tanggung jawab sosial adalah sebuah konsep dimana sebuah perusahaan terhubung dengan sosial dan lingkungan sekitar dalam hal proses bisnis dan interaksi perusahaan dengan stakeholdernya. Tanggung jawab sosial dunia bisnis tidak saja berorientasi pada komitmen sosial yang menekankan pada pendekatan kemanusiaan, belas kasihan, keterpanggilan religi atau keterpangilan moral, dan semacamnya, tetapi menjadi kewajiban yang sepantasnya dilaksanakan oleh para pelaku bisnis dalam ikut serta mengatasi permasalahan sosial yang menimpa masyarakat.
3.2       Etika Bisnis dalam Persaingan
Dalam bisnis akan terjadi persaingan yang sangat ketat kadang-kadang menyebabkan pelaku bisnis menghalalkan segala cara untuk memenangkannya, sehingga yang sering terjadi persaingan yang tidak sehat dalam bisnis. Persaingan yang tidak sehat ini dapat merugikan orang banyak selain juga dalam jangka panjang dapat merugikan pelaku bisnis itu sendiri.
Aspek hukum dan aspek etika bisnis sangat menentukan terwujudnya persaingan yang sehat. Munculnya persaingan yang tidak sehat menunjukkan bahwa peranan hukum dan etika bisnis dalam persaingan bisnis ekonomi belum berjalan sebagaimana semestinya.
Dari segi etika bisnis, hal ini penting karena merupakan perwujudan dari nilai-nilai moral. Pelaku bisnis sebagian menyadari bahwa bila ingin berhasil dalam kegiatan bisnis, ia harus mengindahkan prinsip-prinsip etika. Penegakan etika bisnis makin penting artinya dalam upaya menegakkan iklim persaingan sehat yang kondusif. Sekarang ini banyak praktek pesaing bisnis yang sudah jauh dari nilai-nilai etis, sehingga bertentangan dengan standar moral. Para pelaku bisnis sudah berani menguasai pasar komoditi tertentu dengan tidak lagi mengindahkan sopan-santun berbisnis. Keadaan ini semakin krusial sebagai akibat dari sikap Pemerintah yang memberi peluang kepada beberapa perusahaan untuk menguasai sektor industri dari hulu ke hilir.
3.3       Persaingan usaha dalam Bisnis
Persaingan hanya terjadi pada system dunia yang bebas. Hal ini merupakan faktor yang paling penting dalam memajukan perekonomian. Dalam bahasa Inggris persaingan disebut “competition” , Marshaal Howard berpendapat bahwa persaingan merupakan istilah umum yamg dapat digunakan untuk segala sumber daya yang ada. Persaingan adalah jantungnya perekonomian pasar bebas.
Produsen harus memenuhi keinginan konsumen dalam pelayanan yang lebih efisien dan mendapatkan keuntungan yang lebih baik dari pesaingnya. Produsen akan memperoleh keuntungan dari konsumen apabila ia mampu melayani konsumen secara efisien, dan sebaliknya apila ia tidak mampu, maka ia akan mengalami kerugian dan kebangkrutan.
Adanya persaingan dalam bidang industry akan memaksa para pesaing bisnis untuk menghasilkan barang-barang berkualitas. Perusahaan-perusahaan yang dikelola dengan efisien akan memperoleh keuntungan yang besar dan tetap hidup. Sedangkan perusahaan yang tidak efisien akan mengalami kekalahan dalam bersaing sehingga lama-kelamaan akan bangkrut. Adanya persaingan akan memberikan peluang bisnis, yaitu pasar bebas, dimana tidak ada larangan-larangan atau batasan-batasan bagi perusahaan untuk keluar atau masuk dari pasar.
Menurut Marshall, manfaat umum dari proses persaingan ekonomi adalah terbentuknya harga yang semurah mungkin bagi barang dan jasa yang disertai adanya bentuk pilihan maupun kualitas barang dan jasa yang diinginkan. Dalam hal demikian, banyak produsen yang member kontribusi pada perdagangan atau pasar. Dan harga-harga yang bersaing ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Jika sejumlah penjual yang mau menjual sama dengan jumlah pembeli yang mau membeli, maka disini adalah sisi positif dari persaingan bisnis. Sedangkan sisi negatifnya adalah ketika terjadi persaingan yang mutlak, dimana masing-masing perusahaan hanya menginginkan keuntungan sebesarnya-sebesarnya.
Dalam keadaan seperti itu, akan timbul ketidakmerataan keuntungan dan hasil pendapatan. Pengusaha dengan modal kecil akan tersisih dengan sendirinya. Dalam hal ini para pelaku ekonomi berhasrat menguasai berbagai sector industry sekaligus, mulai dari industri hulu sampai industri hilir.
Iklim persaingan yang demikian akan menyebabkan persaingan yang tidak sehat. Disini persaingan sesama usaha akan semakin ketat dan cenderung tidak jujur, ditambah dengan tidak adanya paranata hukum yang membatasi kegiatan bisnis. Sehubungan dengan berlangsungnya era globalisasi, maka persaingan harus transparan dan mengandalkan profesionalisme.

Jenis Persaingan
     Persaingan bisnis dapat berbentuk persaingan yang sehat atau sempurna dan persaingan yang tidak sehat.
1.      Persaingan sehat
Persaingan sehat dalam arti positif, adalah sarana atau motivasi dalam bidang industry untuk menumbuhkan gairah, untuk menciptakan kualitas dan barang dari segi mutunya. Persaingan sehat bertujuan untuk meningkatkan daya saing dengan menggunakan cara-cara efisien, meningkatkan produktivitas, mutu dan pelayanan maksimal kepada masyarakat. Para pengusaha diisyaratkan berpsikap ksatria dalam menghadapi persaingan sehat. Ini dilakukan dalam praktik bisnis dengan tidak melanggar etika bisnis.
Dalam struktur persaingan sempurna ada cirri-ciri khusus, yaitu:
a)      Terdapat banyak pembeli dan penjual
b)      Produk yang ditawarkan banyak dan homogeny
c)      Tidak ada larangan masuk pasar.
d)     Perolehan yang cukup terhadap informasi pasar.
2.      Persaingan tidak sehat
Sekarang masih banyak perusahaan yang melakukan praktik kartel, monopoli, pengendalian harga dan praktik bisnis tidak sehat lainnya. Upaya pemerintah untuk mewujudkan persaingan sehat belum terlaksana karena banyaknya hambatan dalam praktik persaingan bisnis di Indonesia.
Pengusaha besar yang memiiki kekuatan ekonomi untuk sebagian besar tergoda untuk berbuat salah. Kesalahan itu bisa berupa penetapan harga yang seenaknya, menghalangi arus perusahaan baru yang masuk atau menghempaskan pesaing.
Perusahaan yang anti persaingan adalah perusahaan yang memegang monopoli murni yang ditandai keadaan dimana ciri hanya ada satu pengusaha. Pengusaha yang memegang monopoli murni ini biasanya mampu mengontrol tingkat struktur harga, dan memblokir adanya usaha baru.
Persaingan yang tidak sehat ini, yang ditandai dengan pemusatan kekuatan ekonomi pada seseorang atau beberapa orang adalah tidak sehat, dan ditinjau dari berbagai sudut mempunyai sisi negative, karena itu harus dicegah supaya tidak merusak system perekonomian dan system hukum nasional. Persaingan yang tidak sehat membawa dampak yang tidak baik bagi perlindungan mesyarakat, dan perkembangan dunia usaha itu sendiri.Persaingan tidak sehat bertentangan dengan UUD’45 pasal 33 dan cita-cita keadilan social. Karena itu praktek persaingan yang tidak sehat harus dihindari dalam upaya mewujudkan demokrasi ekonomi yang berazaskan kekeluargaan, keserasian, dan keseimbangan.

Keuntungan dan Etika

            Perlu digaris bawahi bahwa sejak semula tujuan utama bisnis adalah mengejar keuntungan, atau lebih tapat, keuntungan adalah hal yang pokok bagi kelangsungan bisnis, walaupun bukan tujuan satu-satunya. Sebagaimana dianut oleh pandangan bisnis yang ideal, maka dari sudut pandang etika, keuntungan bukan hal yang buruk. Bahkan secara moral, keuntungan merupakan hal yang baik, dan diterima karena, pertama, keuntungan memungkinkan suatu perusahaan bertahan dalam kegiatan bisnisnya. Kedua, tanpa memiliki keuntungan, tidak ada pemilik modal yang bersedia menanamkan modalnya, dan karena itu tidak akan menjadi aktivitas ekonomi demi memacu pertumbuhan ekonomi. Ketiga, keuntungan memungkinkan perusahaan tidak hanya bertahan tetapi juga untuk menghidupi karyawan-karyawannya, bahkan pada tingkat dan taraf hidup yang lebih baik. keuntungan yang diperoleh, perusahaan dapat terus mengembangkan usahanya yang berarti menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang lain.
Dalam persaingan bisnis yang ketat, para pelaku bisa sadar betul bahwa perusahaan yang unggul bukan karena perusahaan mempunyai kinerja bisnis manajerial financial yang baik, melainkan perusahaan juga mempunyai kinerja etis dan etos yang baik.
Kedua, dalam persaingan bisnis yang ketat, para pelaku bisnis yang modern sangat sadar bahwa konsumen adalah raja. Oleh karena itu, hal yang paling pokok untuk bisa untung dan bertahan dalam pasar yang penuh persaingan adalah sejauh mana suatu perusahaan bisa merebut dan mempertahankan kepercayaan konsumen. Ini bukan merupakan hal yang mudah.
Karena dalam pasar yang penuh dengan persaingan dan pasar yang bebas dan terbuka, dimana ada beragam barang dan jasa ditawarkan dengan harga dan mutu yang kompetitif, sekali konsumen dirugikan, maka mereka akan berpaling dari perusahaan tersebut.
Yang paling pokok, adalah para pelaku bisnis modern sadar betul bahwa kepecayaan konsumen hanya mungkin dijaga dengan memperhatikan citra bisnisnya sebagai bisnis yang baik dan etis. Termasuk didalamnya adalah pelayanan, tanggapan terhadap keluhan konsumen, hormat pada hak dan kepentingan konsumen, menawarkan barang dan jasa dengan mutu yang baik dan harga yang sebanding., tidak menipu konsumen dengan iklan bombastis dan seterusnya.
Hal ini kini benar-benar oleh perusahaan-perusahaan yang memang ingin membangun sebuah kerajaan bisnis bertahan lama, mereka sadar bahwa kini konsumen sangat kritis dan tidak mudah dibohongi.
Ketiga, dalam system pasar terbuka dengan peran pemerintah yang bersifat netral dan berpihak tetapi secara efektif menjaga agar kepentingan dan hak dari semua pihak dijamin. Para pelaku bisnis berusaha sebaik mungkin untuk menghindarkan campur tangan pemerintah, karena baginya akan mengganggu kelangsungan bisnisnya. Salah satu cara yang paling efektif untuk keperluan itu adalah dengan cara menjalankan bisnisnya secara baik dan etis, yaitu dengan menjalankan bisnis sedemikian rupa tanpa sengaja merugikan kepentingan semua pihak yang terkait dalam bisnisnya. Asumsinya adalah, jika sampai terjadi ia menjalankan bisnisnya dengan merugikan pihak tertentu, maka pemerintah yang tuhasnya adalah menjaga dan menjamin hak dan kepentingan semua pihak tanpa terkecuali, dan ini kita andaikan dijalankan secara konsekuen akan serta merta turun tangan mengambil tindakan tertentu untuk menertibkan praktek bisnis yang tidak baik itu. Termasuk dalam tindakan tersebut, adalah larangan atau pencabutan ijin usaha perusahaan tersebut yang mana akan fatal bagi nasib perusahaan tersebut. Jadi, dari pada melakukan bisnis yang melanggar kepentingan, para pelaku bisnis berusaha sedapat mungkin untuk secara proaktif berbisnis secara baik dan etis. Paling kurang ini adalah tuntutan dari dalam perusahaan tersebut demi kelangsungan perusahaan itu, demi mendapat keuntungan yang menjadi tujuan pokok bisnis.
Keempat, perusahaan modern juga semakin menyadari bahwa karyawan bukanlah tenaga yang siap dieksploitasi demi mengeruk keuntungan sebesar-besarnya. Justru sebaliknya, karyawan dianggap sebagai subyek utama dari bisnis suatu perusahaan yang sangat memungkinkan berhasil tidaknya perusahaan tersebut.
Dalam bisnis yang penuh persaingan ketat, karyawan adalah orang-orang professional yang tidak mudah diganti. Karena penggantian tenaga professional akan merugikan perusahaan dari segi financial, waktu, energy, irama kerja perusahaan, team work dan seterusnya. Dengan demikian yang paling ideal bagi perusahaan modern adalah bagaimana menjaga dan mempertahankan tenaga kerja professional yang ada daripada membiarkan mereka pergi dan mengundurkan diri.
3.6       PT Rutan
PT RUTAN berdiri pada bulan Agustus tahun 1942 di Malang. Bergerak di bidang industri mesin pertanian, dengan produk utama meliputi : Traktor tangan, Pompa air, Mesin pengairan skala mikro, Mesin pengolah beras, Mesin pengering, Rol karet gulungan padi, diesel engine, welder, generator set, dan kapal aluminum.
Awalnya PT RUTAN ini hanya sebagai bengkel sepeda, kemudian berkembang menjadi tempat reparasi senjata pada zaman perang. Kemudian berkembang menjadi CV GUNTUR yang memproduksi pompa air untuk irigasi/pengairan. Setelah itu berubah nama menjadi PT AGRINDO yang bergerak dibidang mesin-mesin penggilingan padi. Kemudian berkembang lagi menjadi PT TRD yang memproduksi mesin diesel.
 Kami memiliki 7 kantor cabang yang mempunyai jaringan diseluruh Indonesia, yaitu Jakarta, Medan, Palembang, Lampung, Semarang dan Makassar. Selain itu, PT RUTAN juga bekerjasama dengan perusahaan luar negeri seperti ISEKI (swiss), SATAKE (jepang), CROWN (korea), dan KIRLOSKAR (india)
Visi Perusahaan
“Menjadi perusahaan penyedia peralatan pertanian terbesar di Asia Tenggara”.
Misi Perusahaan
“Memasarkan peralatan pertanian dengan harga yang sewajarnya dan untuk membantu Pemerintah menciptakan pertumbuhan ekonomi yang stabil”. Kami menyadari bahwa, dalam rangka memperoleh kesuksesan di dalam usaha tersebut, kami secara terus menerus mengembangkan teknologi tepatguna, manajemen profesional dan memberikan layanan yang terbaik kepada pelanggan kami.
Dalam mengelolah perusahaannya, peranan etika yang ditunjukkan dalam lingkup globalisasi khususnya pada bidang pemasaran produk-produk perusahaan. Dimana ketika pada saat penjualan barang di masyarakat ada pesaing dari luar yang mematok harga jualnya dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan harga barang yang di pasarkan oleh perusahaan dalam negeri, maka tindakan utama yang dilakukan adalah dengan menurunkan harga barang produkn yang dipasarkan kemasyarakat agar konsumen tidak beralih keproduk lain.
Upaya yang dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah produk-produk lain masuk ke wilayah tempat pemasaran adalah dengan memberikan garansi kepada konsumen yang membeli, diantaranya garansi produk dan teknis. Garansi produk yang diberikan adalah dengan mengganti alatnya jika pemakaian belum lama dalam artian belum melewati masa garansi. Kemudian dari segi teknis yaitu pihak perusahaan memberikan jaminan alat-alat/sparkpart jika alat yang dijual mengalami kerusakan sebelum melewati masa garansi. Selain dari itu, pihak perusahaan sesering mungkin berkunjung kedaerah untuk terjun langsung untuk melihat kondisi alat-alat yang ada.


PENUTUP
·   Kesimpulan
Dalam kehidupan bermasyarakat, dikenal nilai-nilai dan norma-norma etis. Begitu juga pada dunia bisnis pada umumnya. Bisnis perlu mengenal dan memperhatikan etika. Dalam dunia persaingan yang ketat, bisnis yang berhasil adalah bisnis yang memprhatikan nilai-nilai moral. Jadi antara etika dan bisnis ada relevasinya. Adanya persaingan yang ketat antara pelaku usaha dan adanya prinsip ekonomi untuk memperoleh kaentungan sebesar-besarnya, membuat para pelaku bisnis bertindak tidak jujur.
Upaya perlindungan konsumen masih terdapat kendala-kendala antara lain karena rendahnya kesadaran konsumen akan hak-haknya. Guna melindungi konsumen dan produsen terhadap perdagangan dalam dan luar negeri, pemerintah mengeluarkan Undang-Undang No.8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.
·         Saran
1.      Perlu adanya pendidikan atau penyuluhan tentang etika bisnis kapada para pelaku bisnis. Demikian pula penyuluhan tentang kehidupan berbisnis yang berlandaskan etika yang merupakan keadilan ekonomi, serta hasil dari penerapan keadilan, yaitu terwujudnya keadilan sosial
2.      Pemerintah perlu mengembangkan dan menumbuhkan aparatyang mempunyai kemampuan, kepekaan, serta kewibawaan untuk melaksanakan pengawasanserta pembinaan kepada pelaku bisnis, agar praktek-praktek yang meninggalkan etika bisnis tidak dilakukan lagi.


DAFTAR PUSTAKA
http://www.kompasiana.com/ianmursito/management-by-objective-sebagai-indikator-keberhasilan-implemetasi-total-quality-management-tqm_54f3d26d745513a12b6c7fa1
Abiyoga. 2009. ”perusahaan.” http://abiyogapradipta.blogspot.com/2009/10/teori-etika-bisnis.html (diakses tanggal 15 November 2012)
Anonim, 2012. Pengertian perusahaan. http://wikipedia.org.com. Diakses pada tanggal 15 desember 2012, Makassar.
Anonim, 2012.Ekonomi Global. http://wikipedia.org.com. Diakses pada tanggal 15 desember 2012, Makassar.
Barten, 2000. ”Pengertian Etika Bisnis.” Jogja : Kanikus
Mustika Wai, Diah. 2010. “Teori-teori Etika Bisnis.” http://diahaja.wordpress.com/2010/12/17/teori-teori-etika-bisnis (diakses tanggal 15 November 2012)
Ramdhan, . 2010. “bisnis perusahaan.” http://finramdhan.blogspot.com/2010/10/etika-dalam-persaingan-bisnis.html (diakses tanggal 16 Desember 2012)


 Johanes Budi Walujo,Drs.
 Hardian Mursito 
 try efendy
TRI SULTAN EFENDI,  dkk                             



0 Response to " "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel