UPAYA PENINGKATAN DAYA SAING UKM | ekonomiakuntansiid



 UPAYA PENINGKATAN DAYA SAING UKM
Berikut  ini akan ditampilkan bagaimana upaya untuk meningkatkan daya saing usaha kecil dan menengah di Indonesia dan khususnya Kab. Bantaeng.


         Berbicara tentang perekonomian nasional, maka tidak lepas dari peran UKM (Usaha Kecil dan Menengah. Para pengusaha yang bergerak dalam usaha kecil dan menengah ini  bergerak dalam berbagai bidang usaha. Sebagian bergerak dalam usaha formal, tetapi tidak sedikit yang bergerak dalam usaha nonformal. Jumlah mereka yang berusaha secara nonformal justru lebih banyak dibanding yang formal (Angky, 2008). Mereka merambah semua bidang usaha yang berkaitan dengan hajat hidup masyarakat. Usaha Kecil dan Menengah merupakan bentuk usaha yang saat ini mengalami globalisasi dalam  perekonomian Indonesia, UKM menjadi salah satu faktor pendorong memajukan sektor  perekonomian di Indonesia, hal ini dapat terlihat pada peran UKM yang banyak membantu mengurangi pengangguran, menekan angka kemiskinan, membantu menyuplai dana untuk  Negara, meningkatkan pendapatan masyarakat dan lain sebagainya. Kementerian koperasi dan UKM mencatat bahwa prosentase terbesar dari total pendapatan dan usaha diseluruh Indonesia dicapai oleh UKM yang mencapai jumlah 56 juta usaha kecil dan menengah pada tahun 2013. Jumlah tersebut mampu menyerap tenaga kerja 107 juta  jiwa atau 97,16 persen dari total keseluruhan tenaga kerja yang terdapat di Negara Indonesia, sedangkan menurut Menteri Negara Urusan Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Suryadharma Ali (Setiadi Umar, 2008) di katakan bahwa UKM mampu memberikan kontribusi sebesar 1.778.7 trilliun atau 53.3 persen dari Gross Domestic Product atau GDP di Indonesia peningkatan 10 persen dari kinerja UMKM ini dapat meningkatkan GDP sebesar 5 persen, dan UKM menyerap tenaga kerja sebesar 85,4 juta  jiwa atau sebesar 96,81 persen terhadap seluruh tenaga kerja yang ada di Negara Indonesia. Kesepakatan ASEAN Economic Community akan berlaku pada tahun 2015 mendatang,  pengusaha perlu bersiap untuk menghadapi persaingan tinggi yang bakal tercipta. Oleh karena adanya aturan baru dari masyarakat ekonomi ASEAN (MEA) yang menyebutkan  bahwa dengan dibentuknya komunitas ini akan semakin memudahkan kerja sama dalam  peredaran barang dan jasa di seluruh kawasan ASEAN akan semakin mudah tanpa adanya system bea masuk dan barrier lainnya.            Oleh sebab itu pelaku usaha di Indonesia harus segera bersiap dan meningkatkan kualitas diri, termasuk kalangan Usaha Kecil dan Menengah yang perlu mengetahui seluk beluk dan mempelajari kondisi pasar yang di  Negara-negara lain dan Negara ASEAN.
      Ketahanan dan daya saing UKM di Indonesia menjadi poin penting yang harus diprioritaskan dalam pelaksanaan ASEAN Economic Community 2015. Keadaan tersebut karena UKM selama ini menjadi tulang punggung yang banyak membantu penyerapan tenaga kerja, mengurangi pengangguran dan kemiskinan serta meningkatkan pendapatan Negara.
       Dalam rangka menghadapi kesepakatan ASEAN Economic Community tahun 2015, para  pelaku UKM di Indonesia perlu melakukan terobosan baru dengan cara mempelajari kondisi pasar di Negara ASEAN lain seperti mencermati cara pelaku UKM Negara lain dalam memasarkan produk, menggaet minat konsumen, menata manajemen distribusi yang  baik dan lainnya untuk mempersiapkan diri menghadapi ASEAN Economic Community (Jabat, 2014). Kota Malang sewaktu rombongan KOPERASI BERJAYA SMAN 2 BANTAENG tahun 20013.Melihat beberapa UKM dikota tersebut memiliki potensi sumberdaya usaha kecil dan menengah yang sangat besar, Model UKM di Kota Malang rata-rata bermula dari UKM perseorangan. Kemudian, usaha ini berkembang dan ditiru oleh orang lain hingga menjadi usaha massal. Lama-lama, sebagian dari mereka menjadi industri.
       Uniknya, usaha ini berkembang jadi massal karena  pengusaha yang mengembangkannya pertama kali tidak pelit berbagi ilmu dengan tetangganya. Tanpa sadar, usaha kecil dan menengah (UKM) sejenis pun mengumpul di satu kawasan sehingga muncul sejumlah sentra (baik resmi atau tidak) UKM di Kota Malang. Misalnya, sentra keramik di Kelurahan Dinoyo, sentra shuttlecock dan anyaman di Kelurahan Arjosari, sentra tempe di Kelurahan Sanan, atau sentra saniter di Kelurahan Pandanwangi.
       Selain itu tumbuh dan berkembang UKM-UKM baru perorangan yang  produk-produknya telah dipasarkan dari tingkat lokal, regional Jawa Timur, Nasional hingga ke manca Negara, misalnya industri kerajinan kayu, glasspainting, aksesori kain,  border, daur ulang, dan lain-lain. Pertumbuhan UKM kreatif ini tidak lepas dari  perkembangan teknologi informatika (internet) yang membantu mempercepat pencapaian  pasar secara luas. Perhimpunan para pengusaha UKM juga bermunculan, antara lain: Asosiasi Perajin Kota Malang, Paguyuban Pengusaha Keramik Dinoyo, Paguyuban
       UMKM “Amongtiwi” Kota Malang, dan lain-lain. Seluruhnya bertujuan meningkatkan daya saing pasar terhadap produk-produk anggotanya. Pemkot Malang telah bekerja sama dengan 57 perguruan tinggi untuk membina UKM di kota Malang melalui nota kesepahaman dengan perguruan tinggi itu untuk mendampingi kelompok UKM binaan. UKM binaan akan mendapatkan bantuan modal, pelatihan,  pembinaan manajemen, dan lain-lain, melalui rekomendasi dari perguruan tinggi Pembina UKM (Kompas, 2014). Menariknya, untuk menjadi kota dengan aneka kreativitas ini tak dipengaruhi oleh peran satu-dua elemen saja. Kepala daerah, birokrasi, BUMN, Perbankan, KADIN, Perguruan Tinggi dan masyarakatnya memiliki semangat yang sama untuk memajukan kota, melalui pengembangan UKM.

        UKM di Indonesia sebagai pelaku usaha potensial harus terus bekerja keras meningkatkan daya saing agar mampu bersaing dan menghadapi Asean Economic Community. Strategi-strategi jitu perlu dan dibutuhkan untuk terus meningkatkan semua sektor industri yang dapat bersaing dengan Negara lain yang tergabung dalam ASEAN, selain meningkatkan daya saing, meningkatkan laju ekspor, dan membuat reformasi atau perombakan baru dalam mengelola UKM dan sektor industri yang lain yang perlu diterapkan dan dikembangkan di Indonesia. Pasar bebas ASEAN 2015 ini memudahkan pelaku UKM di Kota Malang untuk melakukan aktivitas ekspor maupun impor barang ke sembilan negara ASEAN lainnya, namun UKM kita harus mulai meningkatkan daya saing produk agar tak tergilas barang-barang impor dari negara tetangga, para pelaku UKM harus mulai berbenah diri untuk meningkatkan daya saing produk lokal

      Jelang pasar bebas 2015. Cara meningkatkan daya saing UKM Kota Malang jelang pasar bebas ASEAN 2015, antara lain:
Pertama , konsisten menjaga kualitas produk. Menghadapi gempuran produk impor dari negara tetangga yang popularitasnya cukup diperhitungkan oleh kalangan masyarakat kita, UKM Kota Malang tak perlu “ciut nyali” sepanjang  tetap konsisten menjaga kualitas  produk yang mereka pasarkan. Melakukan pembuatan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dalam setiap proses produksi, agar barang-barang yang dipasarkan memiliki kualitas atau standar mutu yang terjamin serupa.
Kedua, menambahkan daya saing UKM Kota Malang melalui  packaging 
 produk yang menarik. Sampai saat ini  packaging  produk menjadi salah satu faktor pendorong bagi para calon konsumen untuk melakukan transaksi pembelian. Karenanya selain menjaga kualitas  produk, hal lain yang perlu diperhatikan para pelaku UKM Kota Malang adalah mendesain  packaging 
 yang menarik, serta mencantumkan logo dan nama produk di setiap kemasan  produk. 
Ketiga , bersaing dari segi harga. Salah satu keunggulan produk China di pasar dunia yaitu harga jualnya terkenal lebih murah dibandingkan produk-produk dari negara lainnya. Langkahnya dengan mengupayakan biaya produksi seefisien mungkin agar harga jual  produk bisa lebih murah dibandingkan produk serupa di pasar bebas 2015.
Keempat , menjaga loyalitas konsumen. Memiliki banyak pelanggan setia menjadi kunci utama kesuksesan UKM Kota Malang untuk menghadapi persaingan pasar  bebas ASEAN sejak tahun 2015. Ketika konsumen memiliki loyalitas yang cukup tinggi terhadap produk-produk yang dipasarkan, maka sebagai pelaku UKM tak perlu khawatir ditinggalkan konsumen ketika  produk-produk dari negara tetangga mulai berdatangan ke Indonesia. Untuk itu intensitas  pameran produk UKM Kota Malang di luar negeri terutama di Negara ASEAN perlu ditingkatkan. 

      Widyatama dalam penelitiannya tertulis mengenai persaingan dunia usaha. Dalam persaingan dunia usaha yang semakin tinggi saat ini, perusahaan harus dapat mengembangkan dan menciptakan nilai-nilai baru atau inovasi untuk dapat bertahan dalam persaingan, antara lain dengan menciptakan nilai melalui Perbaikan Proses Bisnisnya. Penciptaan Nilai adalah penambahan nilai baru terhadap kegiatan individu atau kelompok untuk menghasilkan produk/jasa yang lebih cepat, lebih tepat, lebih efisien, lebih bermutu, lebih responsif, dan lebih fleksibel. Sedangkan Proses Bisnis adalah cara yang lebih baik untuk mendeliver atau menyampaikan barang dan jasa kepada pelanggan. Proses bisnis dibagi menjadi empat dimensi, yaitu : Kompetensi Pegawai, Proses Kerja, Pemanfaatan Teknologi, dan Rumusan Strategi. Penelitian ini difokuskan pada dimensi Proses Bisnis sebagai faktor yang berpengaruh terhadap Penciptaan Nilai dan Keunggulan Daya Saing Berkelanjutan. Proses Bisnis mempengaruhi Penciptaan Nilai dan Keunggulan Daya Saing Berkelanjutan, kemudian Penciptaan Nilai mempengaruhi Keunggulan Daya Saing Berkelanjutan. Dalam penelitian ini sarana yang digunakan untuk berkomunikasi secara tidak langsung dengan responden adalah kuesioner. Responden yang menjadi objek penelitian ini adalah pegawai dan pelanggan (konsumen korporat) Pos Express PT Pos Indonesia. Pos Express merupakan salah satu produk unggulan dari PT Pos Indonesia yang sedang berkembang pesat dan sedang bersaing ketat dengan perusahaan sejenis. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan Analisis Jalur yang digunakan untuk menentukan besarnya pengaruh suatu variabel ataupun beberapa variabel terhadap variabel lainnya baik pengaruh yang sifatnya langsung atau tidak langsung. Dari hasil Analisis Jalur di dapat bahwa faktor yang paling dominan dalam dimensi Proses Bisnis adalah Proses Kerja dan Pemanfaatan Teknologi yang berkontribusi tinggi terhadap Penciptaan Nilai, sementara Kompetensi Pegawai dan Rumusan Strategi belum mempunyai berkontribusi terhadap Penciptaan Nilai yang berimplikasi terhadap Keunggulan Daya Saing Berkelanjutan di Pos Exprees PT Pos Indonesia.
 
Pembahasan
      Momen AEC sejatinya bisa menjadi peluang besar untuk memperbesar sayap bisnis  pengusaha tanah air utamanya pengusaha skala UKM (Bappeda Jatim, 2014). Para pelaku ekonomi di dalam negeri bisa menjual barang atau produk mereka ke seluruh negara ASEAN dengan mudah. Tentu itu bisa dilakukan ketika pelaku usaha tanah air mampu membangun daya saingnya. Pemerintah dan BUMN dapat membantu lebih banyak mengikutsertakan UKM dalam pameran-pameran internasional. KADIN, melalui jaringan  perwakilan di berbagai Negara dapat mengefektifkan kegiatan kontak bisnis UKM Indonesia dengan para pengusaha di luar negeri.
       AEC (ASEAN Economic Community) yang akan diselenggarakan pada tahun 2015 untuk sebagian Negara menjadi halangan dan hambatan tersendiri dalam  perekonomiannya. Dengan daya saing yang tinggi diharapkan semua anggota ASEAN mampu membenahi dan meningkatkan kualitas diri mereka dalam menghadapi persaingan lokal dan internasional yang akan segera diterapkan. Hal tersebut menjadi syarat bagi anggota ASEAN yang tergabung didalamnya dan hal itu sesuai dengan kesepakatan dan  perjanjian bersama.
      Salah satu syarat meningkatkan daya saing tinggi juga harus diterapkan oleh Indonesia. Banyak pihak yang beranggapan bahwa pengusaha Indonesia belum siap menghadapi pasar  persaingan ASEAN karena banyak UKM yang sebagian besar masih gagap teknologi dan kurang memiliki akses serta tidak dapat menguasai bahasa internasional untuk membuat kerjasama dengan usaha lain yang ada di luar negri. Sebagai salah satu sektor industri yang  banyak berkembang ditengah masyarakat dan banyak menyumbang pendapatan Negara serta penyerapan tenaga kerja yang besar, UKM dirasa dapat membantu Negara ini untuk  bersaing dengan Negara ASEAN yang lain. Pemerintah Indonesia menetapkan beberapa strategi nasional untuk menghadapi ASEAN Economic Community (AEC), yaitu: 1.

Penguatan daya saing ekonomi  penguatan daya saing ekonomi ini menggunakan system MP3EI (Masterplan  percepatan dan perluasan pembangunan ekonomi Indonesia) 2. Program ACI (Aku Cinta Indonesia) Program ini dijalankan untuk kampanye agar masyarakat mencintai produk buatan dalam negri dan mengurangi penggunaan produk dari luar negeri 3. Penguatan sektor UMKM Sektor UMKM yang memberikan banyak keuntungan Negara karena banyak memberi  pendapatan Negara dan mengurangi angka kemiskinan serta pengangguran yang mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak dari sektor industri ekonomi yang lain. 4. Perbaikan infrastruktur Perbaikan jalan, penggunaan alat transportasi yang lebih modern, infrastruktur dalam mendukung kegiatan e-commerce dan lain sebagainya.

       Peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Peningkatan ini dilakukan dengan memberikan pelatihan, pendidikan manajemen bagi sumber daya manusia pelaku usaha. Keterlibatan perguruan tinggi dalam membantu  pemberdayaan entrepreneurship yang diharapkan dapat membantu pengembangan UKM melalui serangkaian kerja sama dan olah pikiran, ketrampilan dan inovasi yang kreatif dari mahasiswa perguruan tinggi tersebut sehingga akan didapat produk UKM yang bermutu dan menarik minat konsumen agar dapat bersaing di pasar global dan internasional. Perguruan tinggi yang banyak berkerja sama dengan berbagai bank yang digunakan untuk memudahakan akses pembayaran dapat menjadi jalan untuk pelaku UKM kemudahan dalam mendapatkan bantuan dan tambahan modal dari bank tersebut. Dalam hal pemasaran diperlukan peningkatan teknologi pemasaran untuk mempermudah  pemesanan dan pengiriman barang dengan menggunakan bentuan teknologi e-commerce.
       Pelaku usaha menggunakan teknologi internet misalnya memasarkan produk dengan cara membuat blog dan situs di web sehingga pembeli dapat dengan mudah melihat contoh  barang, mengetahui dan apabila tertarik konsumen akan memesan barang tanpa harus  bertemu langsung dengan penjualnya. Meskipun untuk pengimplementasian e-commerce di Kota Malang bagi UKM masih harus menempuh jalan yang panjang. Pasalnya  pengembangan teknologi ini dibutuhkan kerja sama dari pemerintah, pelaku usaha,  perguruan tinggi, pengembang teknologi dan yang lainnya.
      Apabila sektor UKM Kota Malang masih ketinggalan dalam pemanfaatan teknologinya dikhawatirkan akan menjadi  penghambat dalam mengahdapi AEC karena Negara berkembang yang lain teknologi dalam pengolahan sektor industrinya sudah menggunakan aplikasi yang lebih canggih dan modern.
      Untuk mengatasi masalah UKM tersebut dapat dilakukan dengan cara meningkatkan pengembangan jaringan, pengembangan sentra UKM dengan memanfaatkan teknologi yang berdaya guna tinggi dan hal yang penting adalah sosialisasi dini kepada para  pelaku usaha. Atau pelaku usaha dapat mengimplentasikan knowledge management dimana aplikasi iptek ini digunakan untuk membantu UKM mengembangkan usahanya. Dalam hal penyiapan calon pelaku UKM di Kota Malang. Setiap tahun terdapat ratusan mahasiswa dari perguruan tinggi di Kota Malang membuka usaha melalui Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K). Tidak lanjut untuk pengembangan usahanya agar benar-benar menjadi pengusaha UKM yang tangguh dan berdaya saing tinggi memerlukan penanganan dari pihak perbankan (melalui kredit usaha kecil),  perguruan tinggi (melalui program inkubator bisnis), dan BUMN (Melalui program PKBL dan CSR).


KEBIJAKAN PEMERINTAH KOTA MALANG
       Dari semua hal yang sudah di jabarkan, maka opsi kebijakan yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut: 1. Pemerintah Kota Malang lebih giat dalam program peningkatan Sumber Daya Manusia UKM dengan sosialisasi dan pemahaman tentang ASEAN Economic Community 2015, serta meningkatkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi melalui internet untuk meningkatkan daya saing UKM. 2. Pemerintah Kota Malang bekerjasama dengan BUMN melalui program PKBL (program kemitraan dan bina lingkungan) dan CSR (corporate social responsibility) dapat memperbanyak event pameran produk UKM terutama di Negara ASEAN untuk mengenalkan produk, meningkatkan jumlah konsumen di luar negeri dan menciptakan image bahwa produk UKM Kota Malang mempunyai keunikan dan keunggulan. 3. Pemerintah Kota Malang bekerjasama dengan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Kota Malang dan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA) dapat meningkatkan kontak bisnis antara UKM Kota Malang dengan UKM di Negara ASEAN lain serta memanfaatkan Jaringan Perwakilan KADIN di Negara ASEAN untuk meningkatkan perdagangan antar UKM di negara-negara ASEAN. 4. Penyiapan calon pelaku usaha UKM yang berkualitas dan berdaya saing tinggi melalui  pendidikan entrepreneurship mulai dari pendidikan menengah hingga perguruan tinggi, memperbanyak program magang kewirausahaan, peningkatan kinerja inkubator bisnis.
      Semoga UKM di Indonesia umumnya dan khususnya UKM Kab.Bantaeng bisa maju dan berkembang seperti perkembangan di Kota Malang, bahkan lebih maju lagi dari kota tersebut. Selain itu dapat bersaing dan terus meningkatkan daya saingnya yang tinggi agar UKM kita tidak diremehkan oleh  Negara lain.
DAFTAR PUSTAKA
Angky, Camaro. 2008. UKM Si Kecil Menggeliat di Tengah Badai. Malang: UMM Press. Bappeda Jatim. 2013. Daya Saing UMKM Menghadapi AEC 2015. Bappedajatimprov.co.id. Diakses 10 September 2014 Jabat, Kaban. 2014. Meningkatkan Daya Saing Ukm Jelang Pasar Bebas 2015. Bisnisukm.com. Diakses 10 September 2014 Kompas. Di Malang, Si Kecil Tumbuh Bersama... edisi 8 Juli 2014
Umar, S. 2008. Implementasi Knowledge Management pada UMKM Indonesia untuk Meningkatkan Daya Saing UMKM dalam Dunia Internasional. Jurnal Siasat Bisnis, Vol.12,No. 2.



Catatan Perjalanan rombongan wisata SMAN 2 Bantaeng tahun 2013


0 Response to "UPAYA PENINGKATAN DAYA SAING UKM | ekonomiakuntansiid "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel