Pengertian Globalisasi Budaya, Globalisasi Demokrasi, Perdagangan Bebas |ekonomiakuntansiid

Pengertian Globalisasi Budaya, Globalisasi Demokrasi, Perdagangan Bebas
 Mungkin kita perlu memahami bahwa globalisasi dewasa ini tidak hanya satu macam akan tetapi menurut para penulis menilai bahwa globalisasi itu banyak ragam, Namun berikut ini penulis hanya menampilkan mengenai sekilas pengertian globalisasi budaya, pengertian globalisasi ekonomi ,Pengertian globalisasi demokrasi, pengertian perdagangan bebas.

Pengertian Globalisasi sosial-budaya

Pengertian Globalisasi budaya telah meningkatkan kontak lintas budaya namun diiringi dengan berkurangnya keunikan komunitas yang dulunya terisolasi. Misalnya, sushi dapat ditemukan di Jerman dan Jepang, tetapi di sisi lain popularitas Euro-Disney melampaui popularitas kota Paris sehingga bisa saja mengurangi permintaan roti Perancis yang autentik. Kontribusi globalisasi pada pengasingan seseorang dari tradisinya masih tergolong rendah daripada dampak modernitas itu sendiri seperti yang dikatakan eksistensialis Jean-Paul Sartre dan Albert Camus. Globalisasi telah memperluas kesempatan memperoleh rekreasi melalui penyebaran budaya pop lewat Internet dan televisi satelit.
Agama adalah salah satu elemen budaya pertama yang mengglobal; ada yang disebarkan melalui paksa, migrasi, evangelis, imperialis, dan pedagang. Kristen, Islam, Buddhisme, dan sekte-sekte terbaru seperti Mormonisme sudah memengaruhi kebudayaan endemik di tempat-tempat yang jauh dari tempat asalnya.
Japanese McDonald's
McDonald's di Osaka, Jepang, mengilustrasikan McDonaldisasi masyarakat global
Conversi mengklaim pada tahun 2010 bahwa globalisasi lebih didorong oleh arus aktivitas budaya dan ekonomi dari Amerika Serikat yang lebih dikenal sebagai Amerikanisasi atau Westernisasi. Misalnya, dua gerai makanan dan minuman global tersukses di dunia adalah perusahaan asal Amerika Serikat, McDonald's dan Starbucks. Keduanya sering dijadikan contoh globalisasi karena masing-masing memiliki lebih dari 32.000 dan 18.000 gerai di seluruh dunia per tahun 2008
Istilah globalisasi bermakna transformasi. Tradisi kebudayaan seperti musik tradisional bisa saja lenyap atau berubah menjadi gabungan tradisi. Globalisasi mampu menciptakan keadaan darurat demi melestarikan warisan musik. Para pengarsip berusaha mengoleksi, merekam, atau menulis repertoar sebelum melodinya mengalami asimilasi atau penyesuaian. Musisi lokal berjuang mendapatkan keautentikan dan melestarikan tradisi musik daerah. Globalisasi dapat membuat para pementas atau seniman mengabaikan instrumen musik tradisional. Genre gabungan yang baru bisa menjadi bahan penelitian yang menarik.
Globalisasi mendorong fenomena Musik Dunia dengan mengizinkan musik yang direkam di suatu tempat untuk mencapai pendengar di dunia Barat yang hendak mencari ide dan suara baru. Contohnya, banyak musisi Barat yang telah mengadopsi inovasi yang berasal dari kebudayaan lain.
Istilah "Musik Dunia" awalnya ditujukan pada musik etnis. Sekarang, globalisasi memperluas cakupan istilah ini hingga sub-genre hibrid seperti World fusion, Global fusion, Ethnic fusion and Worldbeat
Gerai Coca-Cola di luar pusat perbelanjaan Grand Gateway 66 di Xujiahui, Shanghai
Musik juga tersebar keluar dari dunia Barat. Musik pop Anglo-Amerika menyebar ke seluruh dunia melalui MTV. Teori dependensi menjelaskan bawha dunia adalah sistem internasional yang terpadu. Dari sudut pandang musik, ini berarti kehilangan identitas musik daerah.
Bourdieu mengatakan bahwa persepsi konsumsi bisa dipandang sebagai identifikasi diri dan pembentukan identitas. Dari sisi musik, ini artinya setiap manusia memiliki identitas musiknya sendiri berdasarkan kesukaan dan selera. Kesukaan dan selera ini sangat dipengaruhi oleh kebudayaan karena kebudayaan adalah fakto paling mendasar yang membentuk keinginan dan perilaku seseorang. Konsep kebudayaan lokal sekarang berubah akibat globalisasi. Selain itu, globalisasi turut meningkatkan interdependensi faktor pribadi, politik, budaya, dan ekonomi.
Laporan UNESCO tahun 2005 menunjukkan bahwa pertukaran budaya makin sering terjadi dari kawasan Asia Timur, namun negara-negara Barat masih eksportir budaya terbesar. Pada tahun 2002, Tiongkok merupakan eksportir budaya terbesar di dunia setelah Britania Raya dan Amerika Serikat. Antara tahun 1994 dan 2002, pangsa ekspor budaya Amerika Utara dan Uni Eropa menurun, sementara ekspor budaya Asia naik melampaui Amerika Utara. Fakta lainnya yang terkait adalah populasi dan luas Asia lebih besar berkali-kali lipat daripada Amerika Utara. Amerikanisasi berhubungan dengan masa-masa tingginya pengaruh politik tinggi Amerika Serikat dan pertumbuhan toko, pasar, dan barang Amerika Serikat yang diekspor ke negara lain.
Globalisasi, sebagia fenomena yang beragam, berkaitan dengan dunia politik multilateral serta perkembangan pasar dan benda budaya antarnegara. Pengalaman yang dialami India mengungkapkan jamaknya pengaruh globalisasi budaya.
 Perdasar dari uraian tersebut maka pengertian globalisasi budaya adalah menyebarnya dari beberapa budaya kedalam sebuah kesatuan sehingga berakibat pada ketidaj jelasan budaya dari setiap negara. Akan tatapi yang ada telah manjadi budaya dunia.
Globalisasi ekonomi
Shanghai menjadi simbol ledakan ekonomi Tiongkok yang baru. Pada tahun 2011, Tiongkok memiliki 960.000 jutawan.
Pengertian Globalisasi ekonomi adalah meningkatnya saling ketergantungan ekonomi negara-negara di dunia berkat percepatan pergerakan barang, jasa, teknologi, dan modal lintas perbatasan. Jika globalisasi bisnis terpusat pada penghapusan peraturan perdagangan internasional semisal tarif, pajak, dan beban lainnya yang menghambat perdagangan global, globalisasi ekonomi adalah proses peningkatan integrasi ekonomi antar negara yang berujung pada munculnya pasar global dan pasar dunia tunggal. Tergantung paradigmanya, globalisasi ekonomi bisa dipandang sebagai fenomena positif atau negatif. Globalisasi ekonomi terdiri dari globalisasi produksi, pasar, persaingan, teknologi, dan perusahaan dan industri. Tren globalisasi saat ini dapat dianggap hasil dari integrasi negara maju dengan negara yang kurang maju melalui investasi langsung asing, pengurangan batasan perdagangan, reformasi ekonomi, dan imigrasi.
Tahun 1944, 44 negara menghadiri Konferensi Bretton Woods untuk menstabilkan mata uang dunia dan menetapkan kredit untuk perdagangan internasional pada era pasca Perang Dunia II. Tatanan ekonomi internasional yang direncanakan oleh konferensi ini menjadi pemicu tatanan ekonomi neoliberal yang digunakan hari ini. Konferensi ini juga menubuhkan beberapa organisasi yang penting bagi terbentuknya ekonomi global dan sistem keuangan global, seperti Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, dan Organisasi Perdagangan Dunia.
Misalnya, reformasi ekonomi Tiongkok menghadapkan Tiongkok pada arus globalisasi tahun 1980-an. Para ahli menemukan bahwa Tiongkok berhasil mencapai tingkat keterbukaan yang sulit ditemukan di negara-negara besar dan padat lainnya. Persaingan barang asing menyentuh hampir semua sektor ekonomi Tiongkok. Investasi asing turut membantu meningkatkan kualitas produk dan pengetahuan dan standar, terutama di bidang industri berat. Pengalaman Tiongkok menguatkan klaim bahwa globalisasi ikut menambah kekayaan negara miskin. Pada 2005–2007, Pelabuhan Shanghai menyandang gelar pelabuhan tersibuk di dunia.
Contoh lainnya, liberalisasi ekonomi di India dan reformasi ekonominya dimulai pada tahun 1991. Per 2009, sekitar 300 juta orang, setara dengan jumlah penduduk Amerika Serikat, telah keluar dari jeratan kemiskinan. Di India, alihdaya proses bisnis disebut-sebut sebagai "mesin pembangunan utama India sampai beberapa dasawarsa selanjutnya yang banyak berkontribusi pada pertumbuhan PDB, penambahan lapangan pekerjaan, dan pemberantasan kemiskinan".
Demokrasi global
Pengertian Globalisasi demokrasi adalah gerakan yang memperjuangkan sistem demokrasi global yang akan memberi warga dunia hak suara di lembaga politik. Demokrasi global akan melintasi negara-bangsa, oligopoli perusahaan, lembaga swadaya masyarakat ideologis, aliran politik, dan magia. Salah seorang pendukung yang paling lantang adalah pemikir politik asal Britania Raya, David Held. Pendukung globalisasi demokrasi berpendapat bahwa perluasan dan pembangunan ekonomi harus dijadikan tahap pertama pelaksanaan globalisasi demokrasi, kemudian diikuti tahap pembangunan lembaga politik global. Francesco Stipo, Direktur United States Association of the Club of Rome, mendukung agar semua negara bersatu membentuk pemerintahan dunia. Ia berpendapat bahwa pemerintahan dunia "mencerminkan keseimbangan politik dan ekonomi negara-negara di dunia. Konfederasi dunia tidak akan melampaui kewenangan pemerintahan masing-masing negara, melainkan menjadi pelengkap, karena pemerintah negara dan dunia memiliki kekuasaan di dalam lingkup kompetensinya".[299] Mantan Senator Kanada Douglas Roche, O.C., melihat globalisasi sebagai sesuatu yang tak dapat dihindari dan mendukung pembentukan institusi-institusi seperti Majelis Parlemen Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dipilih langsung untuk mengawasi badan internasional yang anggotanya tidak masuk melalui pemilihan langsung.
Liberalisme ekonomi dan perdagangan bebas
George W. Bush dan Hu Jintao bertemu saat menghadiri KTT APEC di Santiago de Chile, 2004
Kaum liberal ekonomi dan neoliberal umumnya berpendapat bahwa tingkat kebebasan ekonomi dan politik yang lebih luas dalam bentuk perdagangan bebas di negara maju merupakan harga mati, sehingga menghasilkan kekayaan material yang lebih banyak. Globalisasi dipandang sebagai proses penyebaran kebebasan dan kapitalisme yang menguntungkan. Jagdish Bhagwati, mantan penasihat globalisasi untuk PBB, mengatakan bahwa meskipun jelas sekali masalah yang dihasilkan pembangunan yang terlalu cepat, globalisasi adalah dorongan positif yang mengangkat sebuah negara dari garis kemiskinan dengan memulai siklus ekonomi disertai pertumbuhan ekonomi yang cepat. Ekonom Paul Krugman adalah pendukung globalisasi dan perdagangan bebas garis keras lainnya yang hampir selalu tidak setuju dengan sebagian besar kritikus globalisasi. Ia berpendapat bahwa para kritikus tadi kurang memiliki pengetahuan dasar soal keunggulan komparatif dan manfaatnya di dunia modern.
Arus migran ke negara-negara yang ekonominya maju diklaim berhasil menciptakan penyatuan upah global. Penelitian IMG menunjukkan adanya kemungkinan transfer keterampilan ke negara berkembang setelah upah di negara tersebut naik. Pembebasan pengetahuan juga merupakan aspek integral dari globalisasi. Inovasi teknologi (atau transfer teknologi) dirancang supaya lebih menguntungkan bagi negara berkembang dan negara kurang berkembang, contohnya dalam hal penggunaan telepon genggam.
Pertumbuhan ekonomi cepat mulai terjadi di Asia setelah Asia menerapkan kebijakan ekonomi berbasis orientasi pasar yang mengutamakan hak kepemilikan swasta, perusahaan bebas, dan persaingan. Lebih spesifik lagi, di negara-negara berkembang Asia Timur, PDB per kapita naik 5,9% per tahun sejak 1975 sampai 2001 (menurut Human Development Report 2003 yang dirilis UNDP). Jurnalis ekonomi Britania Raya, Martin Wolf, mengatakan bahwa pendapatan negara-negara berkembang miskin, yang jumlah penduduknya mewakili lebih dari separuh populasi dunia, tumbuh lebih cepat ketimbang negara-negara kaya yang pertumbuhannya relatif stabil, lantas mengurangi kesenjangan internasional dan kemiskinan.
Perubahan demografi tertentu di negara berkembang setelah liberalisasi ekonomi dan integrasi internasional aktif menghasilkan peningkatan kesejahteraan umum dan berkurangnya kesenjangan. Menurut Wolf, di semua negara berkembang, harapan hidup naik empat bulan setiap tahunnya sejak 1970, dan kematian bayi berkurang dari 107 per 1.000 bayi pada tahun 1970 menjadi 58 per 1.000 pada tahun 2000 berkat perbaikan standar hidup dan kondisi kesehatan. Selain itu, tingkat melek huruf dewasa di negara berkembang naik 53% pada tahun 1970 menjadi 74% pada tahun 1998, dan tingkat buta huruf yang lebih rendah di kalangan pemuda menandakan bahwa jumlah penduduk buta huruf akan terus berkurang seiring waktu. Turunnya tingkat kelahiran di seluruh negara berkembang dari 4,1 kelahiran per wanita tahun 1980 hingga 2,8 kelahiran per wanita tahun 2000 menandakan adanya kenaikan tingkat pengetahuan wanita mengenai kelahiran serta pengawasan anak melalui perhatian orang tua. Konsekuensinya, orang tua yang lebih sejahtera dan berpendidikan yang anak-anaknya sedikit memutuskan untuk menjauhkan mereka dari kerja dini supaya mereka bisa berkesempatan menuntut ilmu di sekolah; keputusan ini turut menyelesaikan masalah tenaga kerja anak. Walaupun seolah ada distribusi pendapatan yang tidak setara di negara-negara berkembang, pertumbuhan dan pembangunan ekonominya memberi standar hidup yang lebih tinggi dan kesejahteraan bagi semua orang. Dengan demikian jika diperhatikan pengertia liberalisme dan perdagangan bebas,globalisasi ekonomi, demokrasi global , maka pada dasarnya hanya beda sedikit. Kesemuanya hanya kepentingan negara adikuasa. Negara yang masih berkembang atau negara yang miskin tetap menjadi obyek belaka. Tidaklah mengerankan globalisasi dan makrkantilisme abad ke 18-19.Tempo dulu.

Referensi

1. Martin Wolf (2004). "Why Globalization Works". Yale University Press. Diakses tanggal 2013-04-06.
2. "Human Development Report 2003" (PDF). UNDP. 2003. Diakses tanggal 2013-04-06.
3. Saggi, Kamal (2002). "Trade, Foreign Direct Investment, and International Technology Transfer: A Survey." World Bank Research Observer, 17 (2): 191–235. doi:10.1093/wbro/17.2.191
4. International Monetary Fund . (2000). "Globalization: Threats or Opportunity." 12th April 2000: IMF Publications.
5. Conversi, Daniele (2009) 'Globalization, ethnic conflict and nationalism', in B. Turner (ed.) Handbook of Globalization Studies. London: Routledge/ Taylor & Francis; Barkawi, Tarak (2005) Globalization and War. Rowman & Littlefield; Smith, Dennis (2006) Gobalization: The Hidden Agenda. Cambridge: Polity Press. See also Barber, Benjamin R., Jihad vs. McWorld. Ballantine Books, 1996
6.  Sachs, Jeffrey (2005). The End of Poverty. New York, New York: The Penguin Press. ISBN 1-59420-045-9.
7. Bhagwati, Jagdish (2004). In Defense of Globalization. Oxford, New York: Oxford University Press.
8. Roche, Douglas. "The Case for a United Nations Parliamentary Assembly" (PDF). The World Federalist Movement–Institute for Global Policy. Diarsipkan dari versi asli (PDF) tanggal 31 May 2013. Diakses tanggal 28 May 2012.
9. "USACOR.org". USACOR.org. 28 July 2009. Diakses tanggal 31 July 2010.
Hacker, Violaine (2011), "Building Medias Industry while promoting a community of values in the globalization: from quixotic choices to pragmatic boon for EU Citizens", Politické Védy-Journal of Political Science, Slowakia
10. McAlister, Elizabeth. 2005. "Globalization and the Religious Production of Space." Journal for the Scientific Study of Religion, Vol. 44, No 3, September 2005, 249–255.
11. Americanization
12. http://criticalglobalisation.com/Issue3/36_59_LIMITS_CULTURAL_GLOBALISATION_JCGS3.pdf
 "2010 Form 10-K, McDonald's Corporation". United States Securities and Exchange Commission. Diakses tanggal 3 March 2011.
13. Steger, Manfred.Globalization. New York: Sterling Publishing, 2009.
14^ Clayton, Thomas. 2004. "Competing Conceptions of Globalization" Revisited: Relocating the Tension between World-Systems Analysis and Globalization Analysis. In: Comparative Education Review, vol. 48, no. 3, pp. 274–294.
15. Throsby, David. (2002.) "The music industry in the new millennium: Global and Local Perspectives." Paper prepared for The Global Alliance for Cultural Diversity Division of Arts and Cultural Enterprise UNESCO, Paris.
16. "Ethnic fusion Music". Allmusic.
17 "Worldbeat". Allmusic.
18. "World Fusion Music". worldmusic.nationalgeographic.com.
19. Wallerstein, Immanuel. 2004. World-Systems Analysis. An Introduction. London: Duke University Press, pp. 23–59.
20.  Beard, David and Keneth Gloag. 2005. Musicology: The Key Concepts. London and New York: Routledge.
21. "International Flows of Selected Goods and Services" (PDF). Diakses tanggal 31 July 2010.
22.^ Ghosh, Biswajit (2011). "Cultural Changes and Challenges in the Era of Globalisation." Journal of Developing Societies, SAGE Publications, 27(2): 153–175.
23. A Global Perspective on Bilingualism and Bilingual Education (1999), G. Richard Tucker, Carnegie Mellon University
24. "China close to have $1 million millionaires". The Economic Times. 13 April 2011.
25. a b Joshi, Rakesh Mohan, (2009) International Business, Oxford University Press, New Delhi and New York ISBN 0-19-568909-7.
26. Riley, T: "Year 12 Economics", page 9. Tim Riley Publications, 2005
27. Brandt 2008, hlm. 13
28. "World Port Rankings 2005". American Association of Port Authorities. 2005. Diakses tanggal 15 September 2009.
29. "World Port Rankings 2006". American Association of Port Authorities. 2006. Diakses tanggal 15 September 2009.
30. http://aapa.files.cms-plus.com/Statistics/WORLD%20PORT%20RANKINGS%2020081.pdf
31. China has grown into the world's second largest economy, its resilience apparent in its relative economic stability during the 2008 global financial meltdown. Indeed, this sustained economic growth may be observed in many East Asian and Asia-Pacific economies, indicating that the 21st century's economic growth will be driven by Asian economies.
32. Nick Gillespie (2008). "What Slumdog Millionaire can teach Americans about economic stimulus". Reason.
33. a b Kuruvilla; Ranganathan (October 2008). "ECONOMIC DEVELOPMENT STRATEGIES AND MACRO- AND MICRO-LEVEL HUMAN RESOURCE POLICIES: THE CASE OF INDIA'S "OUTSOURCING" INDUSTRY". Industrial & Labor Relations Review 62 (1): 39–72.

0 Response to "Pengertian Globalisasi Budaya, Globalisasi Demokrasi, Perdagangan Bebas |ekonomiakuntansiid"

Post a Comment

Postingan Populer

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel